in ,

Berkat Diversifikasi, Laba Inti Indika Energy Meningkat

Azis mengatakan, peningkatan pendapatan juga kontribusi dari PT Petrosea Tbk. yang mencatat kenaikan 9,9 persen berkat meningkatnya kinerja di bidang kontrak pertambangan. Demikian pula perusahaan tambang batu bara PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) yang meningkat sebesar 75,1 persen dikarenakan adanya kenaikan volume penjualan batu bara dari 0,6 juta ton menjadi 0,9 juta ton pada semester 1/2021. MUTU juga mencatat kenaikan harga jual rata-rata batu bara sebesar 30,4 persen dari 63,1 dollar AS menjadi 82,3 dollar AS per ton.

“Perusahaan lainnya, seperti perusahaan transportasi dan logistik laut PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. (MBSS), dan perusahaan logistik terintegrasi PT Interport Mandiri Utama (Interport) juga berkontribusi positif terhadap meningkatnya pendapatan Perseroan,” ungkap Azis.

Baca Juga  Facebook Berganti Nama Jadi Meta, Begini Filosofinya

Sementara itu, laba kotor semester 1/2021 perseroan tercatat sebesar 294,0 juta dollar AS, atau meningkat 68,7 persen dibandingkan 174,3 juta dollar AS periode yang sama tahun lalu. Semester 1 tahun ini, margin laba kotor perseroan juga naik dari 15,4 persen menjadi 22,8 persen, terutama disebabkan meningkatnya margin laba kotor Kideco dari sebelumnya 17,2 persen menjadi 27,4 persen di periode yang sama tahun lalu. Namun peningkatan tersebut sedikit tergerus oleh kerugian kotor Tripatra sebesar 20,3 juta di periode yang sama karena adanya biaya tambahan yang dikeluarkan dalam proyek BP Tangguh.

Turunnya beban penjualan, umum dan administrasi sebesar 2,8 persen dari 76,7 juta dollar AS menjadi 74,6 juta dollar AS pada semester 1/2021 juga membawa dampak positif sehingga laba operasi melonjak 124,9 persen menjadi 219,4 juta dollar AS pada semester 1/2021 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga  Pemerintah Mulai Hentikan Total Siaran TV Analog

Sementara itu, pada semester 1 tahun ini, beban keuangan perseroan meningkat 15,9 persen dari 47,6 juta dollar AS menjadi 55,2 juta dollar AS. Hal ini disebabkan oleh peningkatan beban bunga atas obligasi baru dengan tingkat kupon yang lebih tinggi (rata-rata 7,2 persen), serta tambahan utang sebesar 125 juta dollar AS untuk mendanai investasi diversifikasi.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *