in ,

Luhut: Kenaikan Bea Masuk 200 Persen Tak Hanya Berlaku untuk Barang dari AS dan Tiongkok

Luhut: Kenaikan Bea Masuk 200 Persen
FOTO: Kementerian Bidang Kemaritiman dan Investasi

Luhut: Kenaikan Bea Masuk 200 Persen Tak Hanya Berlaku untuk Barang dari AS dan Tiongkok  

Pajak.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan bahwa kenaikan bea masuk sebesar 200 persen tak hanya berlaku untuk barang dari Amerika Serikat (AS) dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT)/Tiongkok. Kenaikan bea masuk ini akan berlaku untuk semua negara.

“Di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu, terutama karena tensi hubungan antara AS dan Uni Eropa dengan Tiongkok serta Rusia, Indonesia harus menetapkan posisinya dengan baik dan sesuai dengan kepentingan nasional (national interest) Indonesia. Ini adalah acuan yang sangat penting, karena Indonesia tidak ingin sekadar mengekor negara-negara lain, jika hal tersebut bertentangan dengan kepentingan nasional Indonesia. Kita tidak menargetkan negara tertentu, apalagi Tiongkok. Semua langkah diambil berdasarkan national interest kita,” jelas Luhut dalam keterangan resmi, dikutip Pajak.com, (8/7).

Ia mengungkapkan bahwa hal tersebut merupakan hasil dari rapat koordinasi terbatas (rakortas) yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 25 Juni 2024. Dalam rapat ini Jokowi memutuskan untuk melakukan perlindungan terhadap industri dalam negeri sesuai dengan ketentuan peraturan dan norma-norma perdagangan internasional yang berlaku.

“Salah satu langkah akan ditetapkan pemerintah adalah penerapan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) untuk beberapa produk tekstil yang sudah diberlakukan saat ini. BMTP ini diterapkan untuk seluruh barang impor tanpa membedakan negara asal. Saya telah berkomunikasi dengan menteri perdagangan untuk membahas masalah ini. Kami sepakat untuk mengutamakan kepentingan nasional tetapi tidak mengabaikan kemitraan dengan negara sahabat,” ungkap Luhut.

Ia menekankan, Tiongkok adalah salah satu mitra komprehensif strategis terpenting Indonesia dalam hal perdagangan dan investasi. Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga hubungan baik ini dengan terus berkomunikasi dan berdialog terkait langkah-langkah kebijakan antar-kedua negara.

Baca Juga  Bea Masuk Barang Impor Akan Naik 200 Persen, Ini Respons KADIN

“Kami ingin memastikan bahwa hubungan baik Indonesia dengan negara mitra terus mengedepankan prinsip saling percaya, saling menghargai, dan saling melengkapi. Saya memahami betul kemitraan strategis dengan negara sahabat adalah kemitraan yang senasib sepenanggungan, khususnya dalam keadaan global yang tidak menentu, seperti yang terjadi pada saat penanganan COVID-19,” ujar Menko Luhut.

Secara spesifik, ia menambahkan, pemerintah akan memperketat pengawasan atas impor terutama untuk pakaian bekas atau barang selundupan yang masuk ke Indonesia dair berbagai negara. Hal ini dilakukan untuk mengatasi indikasi masuknya pakaian bekas dan barang selundupan yang dapat mengganggu pasar dalam negeri.

“Pemerintah juga membuka pintu penyelidikan terhadap praktik-praktik perdagangan yang tidak fair, seperti dumping dari negara mana pun. Ini perlu dikaji betul-betul supaya kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan industri dalam negeri,” tegas Luhut.

Ditulis oleh

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *