in ,

KADIN Sebut Kebijakan Pajak Purbaya Bawa Angin Segar untuk Dunia Bisnis

Foto: P3KPI

KADIN Sebut Kebijakan Pajak Purbaya Bawa Angin Segar untuk Dunia Bisnis

Pajak.com, Jakarta – Ketua Komite Tetap Perpajakan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Ajib Hamdani menyebut bahwa kebijakan pajak ala Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membawa angin segar untuk dunia bisnis. Menurutnya, hal tersebut tecermin dari kebijakan perpanjangan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5 persen untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta penundaan pemungutan PPh Pasal 22 lewat e-commerce. 

“Komitmen dari dirjen pajak sekarang dan Menteri Keuangan Pak Purbaya adalah bagaimana sektor private bisa lebih tumbuh dan ekonomi lebih tumbuh, sehingga pajak sebagai hasil akhir dari sebuah sistem ekonomi bisa berjalan maksimal. Makanya, [tarif] pajak UMKM tidak naik. Pemungutan pajak melalui marketplace yang katanya Februari 2026, pak menteri katakan, belum karena tergantung ekonomi tumbuh atau enggak. Menarik, pak menteri yang baru ini pro dengan pertumbuhan ekonomi,” ungkap Ajib dalam diskusi yang digelar Perkumpulan Praktisi dan Profesi Konsultan Pajak Indonesia (P3KPI), di Jakarta Utara, dikutip Pajak.com (14/10/25).

Dengan demikian, ia menilai bahwa kebijakan pajak era Purbaya bukan semata-mata hanya untuk penerimaan negara. Namun, kebijakan pajak justru didesain sebagai pendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga  Aturan Perpanjangan PPh 0,5 Persen Masuk Tahap Final, Dirjen Pajak: Izin Prakarsa Sudah Diberikan Presiden  

“Kami juga mencermati, kebijakan penerimaan negara penekannya bukan di pajak, tapi berbicara juga masalah kepabenan dan cukai serta PNBP [Penerimaan Negara Bukan Pajak]. Makanya bagaimana dividen dioptimalkan juga,” tandas Ajib.

Ia optimistis harmonisasi kebijakan pajak, kepabeanan dan cukai, serta PNBP dapat memberikan optimisme dalam mewujudkan target Presiden Prabowo Subianto yang ingin mencapai kemandirian fiskal pada tahun 2029.

“Tahun ini kita belanja [negara] sekitar Rp3.600 triliun, tapi sudah diproyeksikan dan hampir pasti Rp600 triliun itu utang. Tapi menarik, Pak Prabowo ingin empat tahun ke depan itu mandiri fiskalnya, defisit nol persen,” ujar Ajib.

Ia meyakini, bauran kebijakan Purbaya yang menggelontorkan dana sebesar Rp200 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dapat menggerakkan lokomotif bisnis.

Oleh karena itu, KADIN optimistis pertumbuhan ekonomi dapat tumbuh mencapai 5 persen di akhir tahun 2025, meskipun terjadi perlambatan pada kuartal III. Ajib pun mengingatkan peran krusial dunia usaha untuk mendorong perekonomian, sehingga belanja tidak cukup sebagai alat satu-satunya penggerak laju pertumbuhan.

“Kebijakan yang berbeda [dari] pak menteri ini juga berbicara lebih banyak menggelontorkan likuiditas di pasar keuangan. Ini adalah bagaimana kebijakan fiskal, tapi ada bauran kebijakan moneternya,” pungkas Ajib.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *