in ,

RUPSLB 2025 BEI Disetujui, Ini Rencana Penguatan Pasar Modal di 2026

Foto: BEI 

RUPSLB 2025 BEI Disetujui, Ini Rencana Penguatan Pasar Modal di 2026

Pajak.com, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2025 dan disetujui oleh para pemegang saham, pada (29/10/25). Salah satu hasil RUPSLB 2025 adalah menyetujui rencana penguatan pasar modal di tahun 2026.

Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menegaskan bahwa BEI secara konsisten memperdalam pasar melalui pengembangan berkelanjutan berbagai produk dan layanan di pasar modal Indonesia. Sepanjang tahun 2025, BEI dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO) dan seluruh stakeholders pasar modal telah berhasil mengimplementasikan sejumlah pengembangan, antara lain inaugurasi Perdagangan Karbon Internasional pada 20 Januari 2025 dan peluncuran Kontrak Berjangka Indeks Asing (KBIA) pada 25 Februari 2025.

“Sejumlah pencapaian berhasil diraih oleh BEI selama tahun 2025 merupakan kontribusi dari aktivitas pasar yang terus bertumbuh secara pesat. Hal tersebut tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 24 Oktober 2025 pada level 8.271,722 atau meningkat sebesar 16,83 persen dari posisi 7.079,905 pada akhir tahun 2024 yang lalu,” ujar Kautsar dalam keterangan tertulis, dikutip Pajak.com (30/10/25).

Kapitalisasi pasar juga turut memecahkan rekor titik tertingginya pada 10 Oktober 2025, yaitu sebesar Rp15.559 triliun. Sedangkan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) kini telah mencapai Rp16,46 triliun atau naik 28 persen dari data pada Desember 2024 yang senilai Rp12,85 triliun.

Dari sisi supply, sampai dengan 24 Oktober 2025 telah terdapat 955 saham perusahaan tercatat dengan penambahan 23 saham baru. Dari penambahan tersebut, lima diantaranya merupakan lighthouse Initial Public Offering (IPO), yaitu IPO dengan kriteria kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun serta free float 15 persen dengan nilai kapitalisasi pasar free float lebih dari Rp700 miliar. Adapun total penghimpunan dana atas seluruh efek sepanjang tahun 2025 mencapai Rp202,6 triliun.

“Sementara dari sisi demand, sampai dengan 24 Oktober 2025 terdapat lebih dari 4,2 juta investor baru atau penambahan 28 persen dibandingkan tahun 2024 yang lalu. Hal tersebut menjadikan jumlah total investor di pasar modal Indonesia berhasil mencapai 19,1 juta investor,” jelas Kautsar.

Dari keseluruhan data tersebut, jumlah investor saham mencapai delapan juta investor atau tumbuh hampir lima kali lipat selama 5 tahun terakhir sejak tahun 2020. Partisipasi investor ritel turut meramaikan aktivitas transaksi tahun ini dengan total rata-rata investor aktif sebesar 222 ribu investor per harinya sampai dengan 24 Oktober 2025.

Baca Juga  AEI Perkuat Fundamental Emiten Indonesia di Tengah Guncangan Global

BEI pun melakukan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2026 dengan penetapan sejumlah asumsi berdasarkan kondisi makro ekonomi. Asumsi tersebut diantaranya adalah tren suku bunga global, kebijakan ekonomi pemerintah baru, serta potensi peningkatan dari sisi perusahaan tercatat dan investor pasar modal. Oleh karena itu, BEI menyusun beberapa asumsi RKAT 2026 berdasarkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. RNTH pada tahun 2026 mencapai Rp14,5 triliun dengan jumlah hari bursa sebanyak 239 hari;
  2. Jumlah pencatatan efek pada tahun 2026 menjadi 555 efek yang terdiri atas dari pencatatan efek saham, emisi obligasi, dan pencatatan efek lainnya, meliputi Exchange-Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), dan Efek Beragun Aset (EBA), serta emisi waran terstruktur;
  3. Investor pasar modal baru sejumlah 2 juta investor baru.

Secara umum, RKAT 2026 disusun dengan mengacu kepada fase pertama dari Master Plan BEI 2026–2030, yaitu meningkatkan kesesuaian produk dengan pasar dan demokratisasi akses.

BEI akan berfokus dalam pengembangan sejumlah rencana kerja yang bertujuan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan, meningkatkan pelindungan investor, penyediaan layanan data yang sesuai kebutuhan pelanggan, hingga penyempurnaan teknologi yang digunakan.

Kautsar menyebut bahwa BEI akan tetap melaksanakan kegiatan rutin berupa pengembangan pasar untuk perusahaan tercatat dan/atau calon perusahaan tercatat, anggota bursa, hingga untuk meningkatkan jumlah dan aktivitas investor pasar modal.

Upaya pengembangan pasar tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan berbagai stakeholder dalam penyelenggaraan kegiatan edukasi bersama, seperti program Sekolah Pasar Modal dan berbagai kompetisi bertema pasar modal, antara lain Virtual Trading Competition powered by IDX Mobile – kompetisi Virtual Trading antar Galeri Investasi BEI yang saat ini tengah memasuki babak grand final.

Selain itu, BEI juga memperluas jangkauan edukasi dengan melibatkan Duta Pasar Modal dan melaksanakan program literasi, seperti Capital Market Summit & Expo (CMSE), Guruku Investor Saham, serta Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) yang diselenggarakan bersama OJK dan pemerintah daerah.

Baca Juga  Purbaya Akan Berikan Insentif Pajak untuk Pasar Modal, Asal Dirut BEI Rapikan Saham Gorengan

BEI turut bersinergi dengan aparat penegak hukum, komunitas investor, dan berbagai pihak lainnya untuk mendorong peningkatan literasi serta partisipasi masyarakat di pasar modal. Kolaborasi dengan OJK dilakukan dalam rangka pelaksanaan World Investor Week (WIW) dan Bulan Inklusi Keuangan (BIK), serta melalui dukungan BEI terhadap kegiatan FinExpo sebagai bagian dari rangkaian program inklusi keuangan nasional.

Dengan memperhatikan seluruh target yang telah disusun dan rencana kegiatan, berikut adalah proyeksi performa keuangan BEI pada tahun 2026:

  1. Jumlah Pendapatan BEI diproyeksikan naik sebesar 9,54 persen menjadi Rp1,94 triliun dari RKAT 2025 sebesar Rp1,77 triliun;
  2. Laba Bersih diproyeksikan naik sebesar 18,02 persen menjadi Rp300,81 miliar dari Rp254,9 miliar;
  3. Cost to income ratio sebesar 80,5 persen atau sedikit lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata sejak 2015;
  4. Kecukupan belanja investasi pada tahun 2026 yang tercermin dari total kas, setara kas, dan aset keuangan lainnya yang masih terjaga di atas Rp3,41 triliun atau naik 8,62 persen; dan
  5. Posisi total aset BEI mencapai Rp7,49 triliun dengan total ekuitas lebih dari Rp6,41 triliun pada akhir tahun 2026.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *