in ,

Investasi Sektor Hilirisasi Cetak Rp 1.245,80 Triliun di Era Jokowi

Investasi Sektor Hilirisasi
FOTO: IST

Investasi Sektor Hilirisasi Cetak Rp 1.245,80 Triliun di Era Jokowi

Pajak.com, Jakarta – Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di sektor hilirisasi telah mencapai angka yang sangat signifikan selama era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Total nilai investasi di sektor tersebut mencapai Rp 1.245,80 triliun dalam rentang tahun 2020 hingga September 2024.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani, menekankan pentingnya hilirisasi sebagai langkah strategis dalam meningkatkan nilai tambah komoditas Indonesia, terutama di sektor-sektor vital seperti mineral, minyak dan gas (migas) serta kehutanan dan pertanian.

“Jadi hilirisasi ini memainkan peranan yang sangat penting dalam kita meningkatkan investasi yang masuk ke Indonesia,” kata Rosan dalam konferensi pers di Jakarta dikutip pada Rabu (16/10).

Sektor Mineral Mendominasi

Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM sektor mineral menjadi kontributor terbesar terhadap total nilai investasi hilirisasi, dengan angka mencapai Rp 759,83 triliun dari periode tahun 2020-September 2024.

Realisasi investasi di sektor ini didominasi oleh pembangunan smelter, terutama untuk komoditas nikel, yang mencatatkan investasi sebesar Rp 514,80 triliun. Selain itu, investasi untuk smelter tembaga mencapai Rp 46,77 triliun, bauksit Rp 194,24 triliun, dan timah Rp 4,02 triliun.

Investasi besar-besaran di sektor mineral ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengembangkan industri pengolahan mineral di dalam negeri, mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah, serta menciptakan rantai nilai yang lebih panjang di sektor industri.

Sektor Migas serta Ekosistem Kendaraan Listrik Ikut Berperan

Selain sektor mineral, sektor migas juga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap realisasi investasi hilirisasi, dengan total investasi mencapai Rp 139,61 triliun. Investasi di sektor ini terutama terkonsentrasi pada pengembangan industri petrokimia. Industri petrokimia dianggap penting karena menghasilkan produk-produk turunan yang menjadi bahan baku bagi berbagai industri manufaktur lainnya, seperti plastik, karet, dan serat sintetis.

Tidak hanya itu, pengembangan ekosistem kendaraan listrik juga mendapat perhatian besar, dengan investasi yang mencapai Rp 19,14 triliun. Pemerintah Indonesia tengah berupaya mengembangkan industri kendaraan listrik untuk mendukung transisi energi dan mengurangi emisi karbon.

Salah satu fokus utama adalah pengembangan baterai kendaraan listrik, yang merupakan komponen vital dalam ekosistem ini. Dengan adanya investasi ini, Indonesia diharapkan bisa menjadi pemain utama dalam rantai pasok global kendaraan listrik di masa depan.

Sektor Kehutanan dan Pertanian Turut Berkontribusi

Sektor kehutanan, khususnya pada industri pulp dan kertas, juga memberikan kontribusi besar dengan total investasi mencapai Rp 196,99 triliun. Industri ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih ramah lingkungan, dengan mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan hutan dan produksi kertas.

Sementara itu, sektor pertanian, dengan fokus pada pengembangan CPO (Crude Palm Oil) dan oleokimia, mencatatkan investasi sebesar Rp 130,23 triliun. Pengolahan CPO dan produk turunan oleokimia memainkan peran penting dalam menopang ekonomi nasional, terutama dalam hal ekspor. Pemerintah terus mendorong hilirisasi di sektor ini untuk memastikan bahwa produk turunan dari kelapa sawit memiliki nilai tambah yang tinggi dan berkontribusi pada perekonomian nasional.

Realisasi Investasi Periode Januari hingga September 2024

Pada periode Januari hingga September 2024, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp 272,91 triliun, dengan kontribusi sektor hilirisasi sebesar 21,6 persen dari total realisasi investasi selama periode tersebut.

Sektor mineral kembali menjadi penyumbang utama, dengan total investasi mencapai Rp 170,78 triliun. Sub-sektor nikel menjadi yang terbesar dengan realisasi Rp 113,77 triliun, diikuti oleh tembaga Rp 45,72 triliun, bauksit Rp 10,79 triliun, dan timah Rp 0,5 triliun.

Di sektor pertanian, investasi mencapai Rp 44,09 triliun, terutama dari pengembangan industri CPO/oleokimia. Sektor kehutanan, dengan industri pulp dan kertasnya, mencatatkan investasi sebesar Rp 33,72 triliun, sementara sektor migas merealisasikan Rp 17,46 triliun.

Selain itu, ekosistem kendaraan listrik terus berkembang dengan realisasi investasi sebesar Rp 6,86 triliun. Pemerintah berharap bahwa perkembangan industri ini akan membantu mendorong transisi energi dan menciptakan lapangan pekerjaan baru di masa depan.

Realisasi Investasi Sektor Hilirisasi pada Kuartal III-2024

Pada kuartal III-2024, realisasi investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp 91,51 triliun, yang mencakup 21,2 persen dari total investasi yang dilakukan pada kuartal tersebut. Sektor mineral tetap mendominasi dengan total investasi sebesar Rp 56,68 triliun, di mana sektor nikel kembali menjadi yang terbesar dengan Rp 32,87 triliun. Sektor tembaga mencatatkan Rp 17,72 triliun, diikuti oleh bauksit Rp 5,69 triliun, dan timah Rp 0,4 triliun.

Pada sektor pertanian, investasi CPO/oleokimia mencapai Rp 20,49 triliun, sementara sektor kehutanan, dengan industri pulp dan kertas, mencapai Rp 9,22 triliun. Sektor migas merealisasikan Rp 4,26 triliun, dengan industri petrokimia menjadi fokus utama. Selain itu, ekosistem kendaraan listrik mencatatkan investasi sebesar Rp 860 miliar pada kuartal III 2024.

Investasi hilirisasi di berbagai sektor ini diharapkan dapat terus berkontribusi dalam menciptakan nilai tambah produk dalam negeri, mendukung pembangunan industri, serta membuka lebih banyak lapangan kerja.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *