in ,

Hadapi Kebijakan Purbaya dan Volatilitas Pasar Saham, AI “Trading Assistant” Ini Diperbarui 

Foto: Mirae Asset 

Hadapi Kebijakan Purbaya dan Volatilitas Pasar Saham, AI “Trading Assitant” Ini Diperbarui 

Pajak.com, Jakarta – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) memperbarui aplikasi M-STOCK, yang merupakan bagian dari evolusi fitur MAIA sebagai artificial Intelligence (AI) trading assistant transaksi saham. Inovasi ini diharapkan dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar saham dan berbagai kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa.

Head of Business Development Mirae Asset Simon Gunawan Sinaga memastikan bahwa investor dapat memanfaatkan volatilitas pasar dengan bantuan strategi baru MAIA yang dirancang untuk berbagai karakter transaksi nasabah, terutama di saat menghadapi dinamisnya makroekonomi.

“Ada lima strategi baru MAIA yang tersedia bagi seluruh pengguna M-STOCK, baik investor pemula maupun trader berpengalaman. Hal ini agar mereka dapat menyesuaikan pendekatan investasi dengan karakter dan tujuan trading masing-masing,” ungkap Simon dalam acara Media Day: Oktober 2025 by Mirae Asset, dikutip Pajak.com (23/10/25).

Ia mengklaim, MAIA membantu menyederhanakan proses transaksi sekaligus mendukung pengambilan keputusan yang lebih objektif, efisien, dan personal bagi pengguna. Dengan tambahan strategi baru ini, total terdapat enam strategi yang dapat diakses langsung melalui fitur MAIA di aplikasi M-STOCK.

Baca Juga  Mirae Asset Prediksi Kondisi Pasar Modal Masih Menantang di Semester II-2025, Usulkan Kebijakan Ini

“Bagi investor yang mengutamakan stabilitas, strategi Market Neutral cocok untuk digunakan, dengan tingkat pengembalian atau annual percentage yield (APY) global 22,67 persen dan rasio menang – kalah 90 persen,” tambah Simon.

Bagi yang ingin hasil lebih agresif, tersedia menu ’Market Neutral Aggressive’. Sementara untuk gaya trading jangka menengah, menu ’Swing Strategy’ mencatat APY tertinggi 35,8 persen dengan rasio menang- kalah 90 persen. Untuk trader aktif, strategi HFT scalp, ultra scalp, dan ultra scalp max allocation menawarkan peluang cepat dengan APY hingga 35,74 persen dan risiko menengah – kalah hingga 70 persen.

Simon menilai, strategi MAIA dapat diterapkan di berbagai kondisi pasar, terutama ketika volatilitas diperkirakan meningkat dalam waktu dekat.

Pada kesempatan yang sama, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto berpandangan bahwa meski volatilitas pasar berpotensi meningkat, prospek pasar saham Indonesia masih positif. Hal ini karena didukung arah kebijakan fiskal yang lebih pro-pertumbuhan dan fundamental makroekonomi yang solid.

Baca Juga  Permudah Investasi SBN, Mirae Asset dan Bank DBS Luncurkan M-STOCK Online Retail Bond

“Penunjukan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan mengubah fokus kebijakan ke arah pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif, tetapi tetap perlu menjaga disiplin fiskal. Investor perlu tetap adaptif terhadap dinamika global dan domestik. Secara umum, prospek pasar masih menarik,” ujar Rully.

Ia menjelaskan koreksi pasar saham saat ini dipengaruhi oleh perhatian pelaku pasar terhadap faktor makroekonomi global dan domestik, seperti meningkatnya ketidakpastian global, naiknya harga emas, serta arus modal asing keluar dari pasar obligasi sebesar Rp45,8 triliun pada September–Oktober 2025. Meskipun demikian, sejak awal tahun pasar saham masih mencatatkan net buy asing.

“Dalam kondisi tersebut, Tim Riset Mirae Asset merekomendasikan strategi buy on weakness, khususnya pada saham Telkom, Sarana Menara Nusantara, Mitratel, Japfa Comfeed Indonesia, Kalbe Farma, dan Barito Pacific dengan potensi pemulihan sentimen di kuartal IV-2025 seiring penurunan suku bunga dan stabilitas nilai tukar,” pungkas Rully.

 

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *