Bursa Karbon Indonesia Hadir di UNFCCC COP 30 Brasil, Wujudkan Pasar Karbon Berintegritas di Kancah Global
Pajak.com, Brasil – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) selaku penyelenggara Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) hadir dalam acara United Nations Framework Convention on Climate Change Conference of Parties ke-30 (UNFCCC COP 30) di Belém, Brasil, pada (10-20/11/25). Keikutsertaan ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mewujudkan pasar karbon berintegritas dan transparansi di kancah global.
Dalam acara ini, KLH/BPLH menghadirkan Paviliun Indonesia sebagai wadah soft diplomacy dan promosi aksi iklim nasional. Paviliun yang mengusung tema Accelerating Substantial Actions of Net Zero Achievement through Indonesia High Integrity Carbon itu juga sejalan dengan visi pengembangan Bursa Karbon Indonesia dalam membangun pasar karbon yang berintegritas tinggi. Selain itu, sepanjang penyelenggaraan COP 30, Paviliun Indonesia juga menyelenggarakan sesi Sellers Meet Buyers untuk membantu mempertemukan calon pembeli dengan pengembang proyek-proyek karbon Indonesia.
Direktur Pengembangan BEI selaku penyelenggara Bursa Karbon Indonesia Jeffrey Hendrik menyebutkan bahwa sejak peluncuran di 26 September 2023 hingga 10 November 2025, terdapat pertumbuhan pengguna jasa yang mencapai 142 pihak. Selain itu, tercatat transaksi sejumlah 1.607.518 ton CO2e dan total retirement atas unit karbon sebesar 986.469 ton CO2e.
“Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki potensi kredit karbon terbesar di dunia. IDXCarbon hadir untuk dapat memaksimalkan potensi perdagangan karbon di Indonesia dengan memberikan transparansi, keandalan, dan keamanan dalam memberikan solusi terbaik bagi perdagangan karbon di Indonesia sehingga tercipta perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien,” jelas Jeffrey dalam keterangan tertulis, dikutip Pajak.com (15/11/25).
Ia pun optimistis partisipasi dari pelaku global akan semakin bertumbuh seiring penguatan ekosistem pasar karbon Indonesia.
Pada acara ini, Bursa Karbon Indonesia pun hadir memasarkan berbagai proyek dari Indonesia yang telah tercatat maupun akan dicatatkan. Hingga Oktober 2025, total volume unit karbon yang telah tercatat di Bursa Karbon Indonesia mencapai lebih dari 3,6 juta ton CO2e (sebelum retirement). Adapun proyek karbon Indonesia yang telah tercatat tersebut, antara lain:
- PT Pertamina Power Indonesia dengan proyek pembangkit terbarukan geothermal di Lahendong;
- PT Perusahaan Listrik Negara/PLN Nusantara Power dengan proyek PLTGU di Muara Karang Blok 3, konversi Pembangkit Combined Cycle di Muara Tawar, dan proyek Pembangkit Listrik Baru Berbahan Bakar Gas Bumi PLTMG Sumbagut 2 Peaker;
- PT PLN Indonesia Power dengan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Minihidro (PLTM) di Gunung Wugul, PLTGU Priok, dan konversi Pembangkit Combined Cycle (Add On) PLTGU di Grati; dan
- PT Perkebunan Nusantara IV dengan proyek pemanfaatan limbah pabrik kelapa sawit (POME) untuk biogas co-firing.
Selain itu, Bursa Karbon Indonesia juga akan memasarkan sejumlah proyek yang telah menandatangani Letter of Intent (LoI), yaitu pernyataan komitmen untuk mencatatkan seluruh atau sebagian unit karbon yang dihasilkan ke Bursa Karbon Indonesia agar dapat diakses oleh calon pembeli secara lebih luas.
Unit karbon dari proyek tersebut tidak hanya bersumber dari skema nasional, tetapi juga skema internasional, dengan pencatatan yang akan dilakukan sesuai jadwal issuance (penerbitan) masing-masing proyek.
Berikut merupakan daftar proyek yang telah menandatangani LoI:
- PT Rimba Makmur Utama dengan proyek Katingan Peatland Restoration and Conservation;
- PT Strata Pacific dengan proyek Seram Climate and Conservation (SERCOVA);
- Arsari Group dengan proyek kehutanan di Kalimantan Timur;
- PT Bumi Hijau Konservasi dengan proyek Nunukan Mangrove Peatland;
- PT Carbonx Bumi Harmoni dan PT Citra Mulia Inti dengan proyek Sanggala Coridor;
- PT Austral Byna dengan proyek konservasi kehutanan di Muara Teweh;
- CarbonEthics dengan proyek Pulang Pisau Peatland Restoration and Fire Prevention dan Aceh Coastal Restoration and Blue Economy Sustainability;
- PT Biru Karbon Nusantara dengan proyek Indonesia Domestic Biogas Programme;
- PT Pertamina Power Indonesia dengan proyek Biogas Power Plant Sei Mangkei;
- PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan proyek aforestasi dan reforestasi di pulau Jawa, proyek produksi Soda Ash menggunakan CO2 dari Ammurea Plant di Pupuk Kaltim, Carbon Capture and Storage (CCS) dari produksi Ammonia di Petrokimia Gresik, Pupuk Kujang Cikampek, Aceh, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur. Juga Carbon Capture and Storage (CCS) dari Blue Ammonia di Yamdena;
- PT PLN (Persero) dengan proyek Hydropower Plant di Asahan III, Hydropower Plant di Jatigede, dan proyek PLTS IKN 50 Mwac (Solar PV);
- PT Geo Dipa Energi (Persero) dengan proyek pembangkit geothermal di Patuha;
- PT Supreme Energy dengan proyek pembangkit geothermal di Rantau Dedap;
- PT Pupuk Kujang Cikampek dengan proyek efisiensi energi pada pabrik dengan implementasi Variable Speed Drive (VSD);
- PT Pupuk Sriwijaya Palembang dengan proyek efisiensi energi pada pabrik dengan implementasi Variable Speed Drive (VSD); dan
- PT Azbil Berca Indonesia dengan proyek efisiensi energi di AEON Mall BSD dan Deltamas, Pondok Indal Mall 2, dan Puri Indah Mall. Juga proyek efisiensi energi di Stasiun MRT Dukuh atas, Bundaran HI, Bendungan Hilir, Setiabudi, Istora, Senayan, dan Blok M;
Jeffrey menyebut bahwa total jumlah total unit karbon atas berbagai proyek tersebut mencapai sekitar 90 juta ton CO2e. Menurutnya, tingginya antusiasme dari pemilik atau pengembang proyek ini menandakan tingginya komitmen pelaku untuk mendukung transisi hijau di Indonesia melalui pasar karbon dan menunjukkan besarnya potensi supply kredit karbon dari Indonesia.
Bagi pihak yang berminat dengan proyek karbon Indonesia dapat mengisi formulir peminatan pada tautan berikut: https://tinyurl.com/IndonesiaCarbonProjects.

Comments