in ,

Analis Mirae Asset Proyeksi Saham Sektor Ini Berkilau di 2026

Foto: Mirae Asset

Analis Mirae Asset Proyeksi Saham Sektor Ini Berkilau di 2026 

Pajak.com, Jakarta – Sejumlah analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) memproyeksi sejumlah saham lintas sektor akan berkilau di tahun 2026. Di sisi lain, analis pun mengingatkan bahwa tahun depan pasar modal masih diselimuti oleh ketidakpastian global, namun perekonomian Indonesia diperkirakan tetap berada pada posisi yang relatif kuat pada tahun depan.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto memproyeksi bahwa sinergi yang semakin kuat antara kebijakan fiskal dan moneter, potensi penguatan rupiah, serta dorongan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi fondasi utama bagi sentimen pasar dan pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan.

“Sektor komoditas khususnya emas, batu bara, dan nikel diproyeksikan tetap memainkan peran strategis dalam menopang kinerja eksternal Indonesia dan memberikan peluang investasi bagi pelaku pasar,” ungkap Rully pada acara Media Day di Jakarta, dikutip Pajak.com (13/12/25)

Berdasarkan proyeksi Mirae Asset, pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan tumbuh 5,3 persen pada 2026 dan 5,4 persen pada 2027, dengan inflasi stabil di kisaran 2,5 persen. Nilai tukar rupiah juga diprediksi menguat menuju Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir 2026, seiring melemahnya dolar indeks (DXY) dan membaiknya koordinasi kebijakan fiskal moneter.

Kendati demikian, kondisi global pada 2026 akan ditandai oleh perlambatan ekonomi Tiongkok, meningkatnya proteksionisme AS, serta berlanjutnya siklus pemangkasan suku bunga di negara maju.

“Meski demikian, Indonesia dinilai tetap resilien karena ekspor komoditas utama termasuk emas, batu bara, dan ferroalloys masih menunjukkan ketahanan permintaan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Senior Research Analyst Mirae Asset Farras Farhan menyebut bahwa 2026 akan menjadi tahun dengan divergensi yang sangat jelas antara komoditas utama. Menurutnya, emas diperkirakan tetap menjadi aset unggulan, dengan harga yang berpotensi bertahan di atas 4.000 dolar AS per ons, ditopang ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, permintaan bank sentral global yang terus meningkat, serta pemulihan arus masuk ETF.

“Emas menjadi aset yang paling defensif dan atraktif tahun depan, sementara batu bara tetap solid dari sisi arus kas dan nikel menghadapi proses penyesuaian pasar yang panjang,” jelas Farras.

Dengan demikian, PT Aneka Tambang (Antam) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk diproyeksikan mendapat manfaat dari harga emas yang tetap tinggi. Untuk batu bara, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk atau Adaro dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk dinilai solid berkat arus kas kuat dan penguatan hilirisasi, termasuk proyek aluminium hijau PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. Sementara itu, PT Trimegah Bangun Persada Tbk dipandang menarik di segmen nikel melalui integrasi rantai pasok. Sedangkan, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk dinilai prospektif sebagai emiten berorientasi dividen.

Selain komoditas, Mirae Asset juga melihat prospek positif pada sektor konsumsi, telekomunikasi, dan infrastruktur digital. Perluasan program MBG diperkirakan meningkatkan permintaan protein dan produk fast-moving consumer goods (FMCG).

“Sementara tren penurunan suku bunga membuka peluang re-rating pada sektor menara telekomunikasi dan jaringan fiber,” ungkap Farras.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *