BPS Ungkap 3 Motor Pendorong Ekonomi yang Tumbuh 5,04 Persen pada Kuartal III-2025
Pajak.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa perekonomian Indonesia tumbuh solid sebesar 5,04 persen secara year-on-year (yoy) pada kuartal III-2025. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh beberapa sektor utama yang berperan besar dalam menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud menyampaikan, lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah jasa pendidikan, yang mencatatkan pertumbuhan mencapai 10,59 persen.
“Lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi adalah jasa pendidikan yang tumbuh 10,59 persen, didorong oleh dimulainya tahun ajaran baru dan peningkatan belanja fungsi pendidikan,” ungkap Edy dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Rabu (5/11/25).
Selain jasa pendidikan, dua sektor lainnya yang tumbuh signifikan adalah jasa perusahaan dan jasa lainnya, yang masing-masing meningkat 9,94 persen dan 9,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Lapangan usaha jasa perusahaan dan jasa lainnya juga tumbuh tinggi pada triwulan 3 tahun 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, secara berturut-turut itu sebesar 9,94 persen dan 9,92 persen,” ujar Edy.
Berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap laju ekonomi nasional, yakni sebesar 1,13 persen. Sektor perdagangan turut memberikan andil penting dengan kontribusi sebesar 0,72 persen, diikuti sektor informasi dan komunikasi dengan 0,63 persen, serta sektor pertanian dengan kontribusi 0,61 persen terhadap total pertumbuhan ekonomi.
“Jika dilihat dari sumber pertumbuhan pada triwulan 3 2025, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar, yaitu sebesar 1,13 persen. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh lapangan usaha perdagangan dengan sumber pertumbuhan 0,72 persen,” kata Edy.
Industri pengolahan yang menjadi penopang utama sektor industri nasional mengalami pertumbuhan seiring meningkatnya permintaan dari pasar dalam negeri maupun luar negeri. Edy Mahmud menjelaskan bahwa peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh pertumbuhan industri makanan dan minuman sebesar 6,49 persen yang didorong oleh naiknya produksi crude palm oil (CPO) dan produk turunannya.
Selain itu, industri logam dasar menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap laju pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal III-2025. Sektor ini mengalami lonjakan signifikan dengan pertumbuhan mencapai 18,62 persen. Kenaikan tersebut tidak lepas dari meningkatnya permintaan global terhadap berbagai produk logam dasar, terutama besi dan baja, yang menjadi komoditas utama ekspor Indonesia.
Sementara itu, sektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga menunjukkan kinerja yang kuat dengan pertumbuhan mencapai 11,65 persen. Pertumbuhan ini terjadi seiring dengan meningkatnya produksi bahan dan barang kimia untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun permintaan dari luar negeri.
Sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, mencatatkan kinerja yang solid sepanjang kuartal III-2025. Edy Mahmud menjelaskan bahwa pertumbuhan sektor ini didorong oleh meningkatnya pasokan barang dari dalam negeri.
Pertumbuhan tersebut juga ditopang oleh peningkatan aktivitas perdagangan barang-barang hasil pertanian dan industri pengolahan, serta melonjaknya transaksi online dan penggunaan kartu kredit serta uang elektronik.
Di sisi lain, sektor informasi dan komunikasi terus menunjukkan pertumbuhan pesat sejalan dengan semakin masifnya aktivitas digital masyarakat. Menurut Edy, peningkatan pada sektor ini tidak lepas dari melonjaknya trafik data dan semakin maraknya transaksi perdagangan melalui sistem elektronik.
Sementara itu, sektor pertanian juga tampil sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025. Edy menyebut bahwa pertumbuhan sektor ini didorong oleh meningkatnya permintaan domestik.
Sub-sektor tanaman pangan mencatat pertumbuhan tinggi sebesar 9,94 persen, seiring bertambahnya luas lahan dan meningkatnya produktivitas padi. Adapun sub-sektor peternakan tumbuh 6,51 persen, terutama karena tingginya permintaan daging ayam dan telur ayam ras untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah.

Comments