in ,

Airlangga Ungkap 3 Bukti Fundamental Perekonomian Indonesia Masih Terjaga

Airlangga Ungkap 3 Bukti Fundamental Perekonomian Indonesia
FOTO: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian 

Airlangga Ungkap 3 Bukti Fundamental Perekonomian Indonesia Masih Terjaga 

Pajak.com, Jakarta – Perekonomian dunia masih dihantui tensi geopolitik, fragmentasi geoekonomi, penguatan dollar Amerika Serikat (AS), suku bunga tinggi di negara maju, dan pengetatan fiskal di negara maju. Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ungkap 3 bukti yang memerlihatkan bahwa fundamental perekonomian Indonesia masih terjaga.

Pertama, pada kuartal I-2024 perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen. Capaian ini lebih tinggi dari kuartal I-2023 dan kuartal IV-2023 yang keduanya tercatat sebesar 5,04 persen. Penilaian berbagai lembaga rating internasional juga memberikan penilaian positif bahwa ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga dengan didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil.

“Bank Dunia baru saja menaikan growth forecast Indonesia di tahun 2024 dari yang tadinya 4,9 persen menjadi 5 persen dan untuk tahun 2025 dari 4,9 persen menjadi 5,1 persen. Di tengah perekonomian dunia mengalami tekanan inflasi tinggi, inflasi Indonesia juga terus terjaga dalam rentang target sasaran di bawah 3 persen,” ungkap Airlangga dalam konferensi pers bertajuk ‘Kondisi Fundamental Ekonomi Terkini dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025’, di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), dikutip Pajak.com(25/6).

Baca Juga  Anggaran Makan Bergizi Gratis Rp 71 T, Sri Mulyani Pastikan Sudah Perhitungkan Defisit APBN 

Kedua, sektor riil Indonesia menunjukkan prospek ekonomi yang baik serta diikuti dengan aktivitas industri dan konsumsi Indonesia yang masih terjaga baik. Level PMI Manufaktur Indonesia tetap terjaga di level ekspansif selama 33 bulan berturut-turut, diikuti dengan indeks keyakinan konsumen (IKK) yang tetap tinggi dan indeks penjualan riil yang tetap tumbuh.

“Sektor eksternal Indonesia tetap kuat, buffer terhadap tekanan global. Neraca Perdagangan Indonesia (Mei 2024) tetap surplus di angka 2,93 miliar dollar AS dan surplus ini 49 bulan berturut-turut,” tambah Airlangga.

Ketiga, sektor keuangan yang berperan sebagai intermediasi yang menunjang fundamental ekonomi turut memerlihatkan pertumbuhan kredit perbankan tahun 2024 berada di atas 11 persen. Capaian ini mampu melebihi realisasi 9 – 10 persen di tahun 2023.

Baca Juga  Jokowi Lantik 3 Wakil Menteri Baru, APINDO: Langkah Memuluskan Transisi Pemerintahan 

“Kredit investasi dan modal kerja juga terus mengalami pertumbuhan serta Realisasi Investasi pada Januari – Maret 2024 mengalami kenaikan sebesar 22,1 persendan telah mencapai Rp 401,5 triliun,” ungkap Airlangga.

Pemerintah melalui Bank Indonesia (BI) juga telah melakukan intervensi untuk menjaga nilai tukar melalui likuiditas valas, cadangan devisa, dan BI rate.

“Dibandingkan dengan negara lain, real yield Indonesia relatif menarik disertai dengan risiko moderat,” pungkas Airlangga.

Ditulis oleh
Baca Juga  Pilih Rasio Utang Jadi 50 Persen atau Defisit Fiskal 0 Persen? Ini Analisis APINDO

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *