Lakukan Ini Sebelum Investasi Saham! Pahami Perbedaan Analisis Fundamental dan Teknikal
Pajak.com, Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menganjurkan agar investor pasar modal melakukan analisis saham sebelum bertransaksi. Investor dapat melakukan analisis fundamental dan/atau teknikal. Hal ini penting dilakukan untuk memitigasi risiko kerugian akibat terpengaruh spekulator atau influencer. Lantas, apa perbedaan keduanya? Berikut ini perbedaan analisis fundamental dan teknikal yang telah Pajak.com rangkum dari laman resmi BEI.
Secara umum BEI menyebut bahwa umumnya investor jangka menengah dan panjang akan melakukan analisis fundamental sebelum membeli saham. Sebaliknya, investor jangka pendek biasanya memilih untuk melakukan analisis teknikal.
Definisi dan Fungsi Analisis Fundamental
Analisis fundamental merupakan metode pengukuran yang dipakai investor untuk mengetahui nilai performa sebuah saham, meliputi kinerja keuangan perusahaan, kondisi ekonomi, manajemen efektivitas perusahaan dan persaingan bisnis di industri perusahaan tersebut bergerak.
Indikator untuk melakukan analisis fundamental adalah return to equity (ROE) atau price to earnings ratio (PER). Adapun ROE adalah rasio keuangan yang mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham. Sementara PER menunjukkan berapa banyak investor bersedia membayar untuk setiap rupiah laba yang dihasilkan perusahaan.
Fungsi analisis fundamental dapat membantu investor memperoleh informasi harga sebuah saham dengan membandingkan harga terkini yang ada. Data tersebut digunakan sebagai pertimbangan investor untuk menilai apakah sebuah saham overvalued atau undervalued.
Analisis fundamental sebuah perusahaan juga bisa dilihat dari kondisi internal perusahaan, manajemen kerja dan keuangan yang stabil, serta memberikan dampak positif pada pergerakan saham perusahaan.
Definisi dan Fungsi Analisis Teknikal
Analisis teknikal adalah metode yang dapat digunakan oleh investor untuk membeli saham berdasarkan data histori harga saham suatu perusahaan. Secara umum, investor akan mengombinasikan dua hingga tiga indikator dalam membuat analisis teknikal. Indikator tersebut yaitu moving average, relative strength index (RSI), dan volume.
Adapun moving average adalah metode yang didapatkan dari perhitungan harga sebelum hari ini. Teknik ini digunakan untuk menghitung pergerakan harga rata-rata dari suatu saham dalam suatu rentang waktu tertentu. Dengan kata lain, moving average merupakan indikator yang cocok untuk mengukur momentum, mengkonfirmasi tren, dan menentukan support serta resistance.
Sementara, RSI sebagai parameter momentum mengukur pergerakan harga. Peningkatan momentum menandakan saham sedang dibeli secara aktif, sedangkan penurunan mengindikasikan lemahnya tren saham tersebut.
Kemudian, volume merupakan indikator yang berfungsi untuk menunjukkan jumlah perdagangan atau transaksi yang terjadi dalam perdagangan di suatu sesi. Volume perdagangan saham menunjukkan jumlah total perpindahan uang baik yang terbeli maupun yang terjual.

Comments