in ,

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 33,48 Dolar AS hingga September 2025

FOTO : IST

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 33,48 Dolar AS hingga September 2025

Pajak.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 33,48 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang periode Januari hingga September 2025. Nilai tersebut meningkat 11,30 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama tahun 2024.

“Dengan demikian, Indonesia telah mencatatkan surplus selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus sepanjang Januari–September 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar 47,20 miliar dolar AS, sementara komoditas migas masih mengalami defisit 13,71 miliar dolar AS,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Senin (3/11/25).

Pudji menjelaskan, capaian surplus tersebut tidak terlepas dari kinerja ekspor yang tumbuh solid di tengah kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada Januari hingga September 2025 meningkat 8,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Peningkatan ekspor ini terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor mencapai 167,85 miliar dolar AS atau tumbuh 17,02 persen.

BPS mencatat tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia pada periode tersebut adalah Tiongkok, AS, dan India, dengan kontribusi total mencapai 41,81 persen dari ekspor nonmigas nasional.

Tiongkok tetap menjadi pasar utama dengan nilai ekspor 46,47 miliar dolar AS (23,26 persen), disusul AS sebesar 23,03 miliar dolar AS (11,53 persen), dan India sebesar 14,02 miliar dolar AS (7,02 persen).

Ekspor ke Tiongkok didominasi oleh komoditas besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke AS terutama berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik, pakaian dan aksesoris rajutan, serta alas kaki.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada Januari–September 2025 tercatat sebesar 176,32 miliar dolar AS atau meningkat 2,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas masih mendominasi dengan nilai 152,58 miliar dolar AS, naik 5,17 persen, sedangkan impor migas justru turun 11,21 persen menjadi 23,75 miliar dolar AS.

Dari sisi penggunaan, peningkatan impor terutama terjadi pada barang modal yang mencapai 35,90 miliar dolar AS atau naik 19,13 persen secara tahunan. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri.

Sepanjang Januari hingga September 2025, Tiongkok menjadi negara asal impor nonmigas terbesar Indonesia dengan nilai 62,07 miliar dolar AS (40,68 persen), diikuti Jepang sebesar 11,01 miliar dolar AS (7,22 persen), dan AS sebesar 7,33 miliar dolar AS (4,81 persen). Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan komponennya.

Surplus perdagangan nonmigas Indonesia sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama. Komoditas dengan kontribusi terbesar adalah lemak dan minyak hewani/nabati dengan nilai mencapai 25,14 miliar dolar AS, diikuti bahan bakar mineral sebesar 20,15 miliar dolar AS, serta besi dan baja yang menyumbang 14,11 miliar dolar AS.

Selain itu, produk nikel juga berperan penting dengan nilai ekspor mencapai 6,50 miliar dolar AS, sementara logam mulia serta perhiasan atau permata memberikan tambahan surplus sebesar 5,41 miliar dolar AS.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *