Menko Airlangga Sebut Negosiasi Tarif Trump Sempat Tertunda, Ini Penyebabnya!
Pajak.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa negosiasi antara Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) terkait tarif impor yang ditetapkan Presiden Donald Trump sempat tertunda akibat shutdown pemerintahan AS.
“Indonesia masih bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Walau perundingan sempat tertunda karena shutdown pemerintahan AS,” kata Airlangga dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2025, yang dipantau Pajak.com pada Selasa (7/10/25).
Airlangga menjelaskan bahwa kesepakatan yang telah dicapai menetapkan tarif impor sebesar 19 persen untuk sejumlah produk ekspor unggulan Indonesia seperti tekstil, furnitur, garmen, sepatu, serta makanan dan minuman. Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah diplomasi perdagangan yang terus diupayakan pemerintah agar produk Indonesia tetap kompetitif di pasar global.
Untuk diketahui, pada Juli lalu pemerintah AS memang menerapkan tarif impor 19 persen terhadap berbagai produk asal Indonesia. Meski masih terbilang tinggi, tarif ini jauh lebih rendah dibandingkan ancaman sebelumnya yang mencapai 32 persen. Pemerintah menilai penurunan tersebut sebagai hasil dari diplomasi yang produktif, sekaligus membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas dengan AS.
Indonesia juga tercatat sebagai salah satu negara yang mendapatkan penurunan tarif paling rendah dibandingkan negara-negara lain yang menyebabkan defisit neraca perdagangan dengan AS. Dari yang sebelumnya dikenakan tarif 32 persen, kini turun menjadi 19 persen.
Meski komoditas ekspor Indonesia masih dikenakan tarif impor hingga 19 persen, pemerintah memastikan bahwa kebijakan tersebut diiringi dengan komitmen investasi besar dari sejumlah perusahaan raksasa asal AS. Menurut Airlangga, beberapa perusahaan ternama telah menyatakan kesiapannya menanamkan modal triliunan rupiah di sektor-sektor strategis Indonesia.
Di antaranya, ExxonMobil akan membangun fasilitas carbon capture and storage (CCS) senilai 10 miliar dolar AS; Oracle berencana membangun pusat data di Batam senilai 6,5 miliar dolar AS; Microsoft akan berinvestasi sebesar 1,7 miliar dolar AS untuk pengembangan infrastruktur cloud dan kecerdasan buatan (AI); sementara Amazon menyiapkan investasi senilai 5 miliar dolar AS untuk pengembangan cloud computing dan AI di Indonesia.
Tidak hanya di sektor teknologi dan energi, kerja sama juga meluas ke bidang kesehatan. Perusahaan General Electric (GE) Healthcare akan membangun fasilitas produksi CT scanner pertama di Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp178 miliar.
Airlangga menegaskan bahwa kerja sama antara Indonesia dan AS memiliki tujuan jangka panjang untuk menjaga keseimbangan internal dan eksternal perekonomian nasional. Menurutnya, langkah ini penting agar neraca perdagangan tetap stabil, sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.

Comments