in ,

Menavigasi Pertumbuhan Regional di Tengah Ketidakpastian Global, Indonesia dan Vietnam Perkuat Kemitraan Strategis

FOTO : IST

Menavigasi Pertumbuhan Regional di Tengah Ketidakpastian Global, Indonesia dan Vietnam Perkuat Kemitraan Strategis

Pajak.com, Jakarta – Di tengah ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global, Indonesia dan Vietnam mempererat kerja sama strategis demi memperkuat ketahanan ekonomi kawasan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya kolaborasi dua negara ini dalam menjaga stabilitas dan memperkuat pertumbuhan regional.

Airlangga menjelaskan bahwa Vietnam dipandang berperan penting dalam komunitas ekonomi ASEAN, khususnya dalam rencana strategis yang sedang dijalankan. Salah satu yang dinilai paling krusial bagi pertumbuhan kawasan adalah ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA), yang implementasinya diperkirakan akan mendorong nilai ekonomi digital ASEAN mencapai 2 triliun dolar Amerika Serikat (AS) pada 2030, dengan kontribusi Indonesia sekitar 600 miliar dolar AS.

“Vietnam juga telah memainkan peran penting dalam komunitas ekonomi ASEAN. Jadi, saya pikir ini merupakan peluang bagi Indonesia dan juga bagi ASEAN,” ujar Airlangga dalam forum Indonesia–Vietnam Friendship Association (IVFA) yang digelar di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Senin (4/8/25).

Dalam paparannya, Airlangga menjelaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia sendiri tetap menunjukkan ketahanan. Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh sebesar 4,87 persen pada kuartal I-2025, sementara inflasi tetap terkendali di angka 2,37 persen pada Juli 2025. Stabilitas ini turut didukung oleh peringkat kredit investment grade BBB dari lembaga pemeringkat S&P.

Pemerintah juga berhasil menegosiasikan pengurangan tarif dengan AS dari 32 persen menjadi 19 persen, langkah yang menurut Airlangga akan membantu melindungi sekitar 5 juta lapangan kerja di sektor padat karya. Bersama Vietnam, Indonesia terus aktif dalam diskusi tarif lanjutan dengan AS demi menjaga iklim investasi dan arus perdagangan di tengah ketidakpastian global.

Tak hanya fokus pada perdagangan, kedua negara juga memperkuat kerja sama keberlanjutan melalui inisiatif seperti Net Zero Emissions, Blue Economy, dan Circular Economy yang menjadi agenda utama ASEAN. Upaya untuk menyederhanakan perdagangan juga diperkuat lewat penyempurnaan ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA), sementara ASEAN Business Advisory Council (ASEAN-BAC) diharapkan aktif memfasilitasi peningkatan perdagangan intra-ASEAN.

“Dengan adanya perang dagang global saat ini, saya rasa ASEAN, yang percaya pada kolaborasi multilateral, harus memperkuat ekonomi intra-ASEAN-nya sendiri. Kita memiliki 600 juta penduduk dan ekonomi kita juga lebih dari 3 triliun dolar AS. Jadi, saya pikir ini ruang bagi kita untuk saling memperkuat rantai nilai regional, agar ASEAN lebih tangguh menghadapi hambatan dan ketidakpastian,” ujar Airlangga.

Kerja sama bilateral Indonesia–Vietnam juga terlihat semakin konkret dalam sektor investasi. Salah satu yang menonjol adalah komitmen VinFast, perusahaan kendaraan listrik asal Vietnam, yang berencana menginvestasikan 1,2 miliar dolar AS untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi di Asia Tenggara.

Selain itu, kedua negara telah menandatangani Letter of Intent untuk kerja sama ekonomi digital dan peningkatan kapasitas teknis. Tujuannya adalah memperkuat infrastruktur digital, mendorong inovasi, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Peluang kolaborasi ke depan juga terbuka lebar di sektor industri peralatan, perdagangan, jasa, energi, perhotelan, restoran, dan perikanan.

Airlangga menilai bahwa di tengah ketidakpastian global, Indonesia dan Vietnam telah menunjukkan hubungan persahabatan yang kuat, dan menurutnya, kerja sama kedua negara memiliki potensi besar untuk membantu mengurangi berbagai risiko yang timbul akibat situasi global yang tidak menentu.

“Kita perlu tetap optimistis terhadap masa depan kita, dimana kawasan kita bersatu, terintegrasi, berdaya saing, berkomitmen untuk mempertahankan tatanan perdagangan multilateral yang terbuka, tangguh, dan berwawasan ke depan, serta mempromosikan perdagangan dan investasi untuk bergerak maju dan mendorong lebih banyak kolaborasi antarmasyarakat,” pungkas Airlangga.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *