World Bank Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,7 Persen, Purbaya: Mereka Salah Hitung
Pajak.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai proyeksi World Bank (Bank Dunia) yang memangkas pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026 sebagai perhitungan yang keliru. Angka tersebut lebih rendah dibanding proyeksi pada Oktober 2025 yang mencapai 4,8 persen.
Purbaya mengungkapkan bahwa proyeksi tersebut tidak sejalan dengan kondisi ekonomi domestik yang dinilai masih kuat, terutama pada kuartal I-2026. Ia menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada awal tahun bahkan berpotensi berada di atas 5,5 persen.
“Triwulan pertama saja mungkin 5,5 persen hingga 5,6 persen atau lebih. Berarti World Bank menghitung kita mau resesi, turun ke bawah sekali setelah itu kalau rata-ratanya 4,6 persen. Saya pikir World Bank salah hitung,” ujar Purbaya kepada awak media, dikutip Pajak.com pada Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, pemerintah akan tetap fokus menjaga fundamental ekonomi nasional melalui penguatan berbagai program prioritas. Ia menekankan pentingnya kesiapan sistem keuangan serta perbaikan iklim investasi sebagai kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
“Saya pikir dengan usaha seperti itu nanti juga pertumbuhan ekonomi akan berbalik,” jelasnya.
Purbaya juga menilai bahwa revisi proyeksi yang dilakukan World Bank kemungkinan besar dipengaruhi oleh asumsi harga minyak global yang tinggi. Ia meyakini bahwa jika harga minyak kembali normal dalam waktu dekat, lembaga tersebut akan mengubah kembali prediksinya.
Lebih lanjut, Purbaya menilai bahwa dampak dari proyeksi tersebut dapat memicu sentimen negatif terhadap perekonomian Indonesia. Ia menunggu klarifikasi jika nantinya proyeksi tersebut direvisi kembali.
“Tapi dia sudah melakukan dosa besar. Dia menimbulkan sentimen negatif ke kita. Nanti saya tunggu permintaan maaf dari mereka ketika harga minyak sudah balik lagi ke level yang normal. Kalau dia merubah prediksi ekonominya lagi,” imbuhnya.
Meski demikian, Purbaya tetap membuka kemungkinan bahwa proyeksi tersebut bisa saja benar. Namun, ia menegaskan bahwa berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, kondisi ekonomi Indonesia saat ini justru menunjukkan tren perbaikan.
“Mungkin saja World Bank betul. Tapi saya enggak tahu, yang jelas kalau diangka saya sih sedang membaik. Dan akan kita jaga terus, mungkin World Bank belum tahu jurus-jurus Asia saya,” pungkasnya.
Untuk diketahui, World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026 dari sebelumnya 4,8 persen. Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan melambat menjadi 4,7%, seiring tekanan dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya sentimen kehati-hatian investor,” tulis World Bank.
Selain Indonesia, pertumbuhan ekonomi Tiongkok, juga diperkirakan turun dari 5,0 persen pada tahun 2025 menjadi 4,2 persen pada tahun 2026 dan 4,3 persen pada tahun 2027. Hal ini terjadi seiring dengan berlanjutnya ketidakpastian permintaan domestik dan tantangan di sektor properti, serta perlambatan global yang menghambat pertumbuhan ekspor.

Comments