in ,

Purbaya Sebut Ekonomi Indonesia dalam Posisi Kuat di Tengah Eskalasi Konflik Geopolitik

Purbaya Sebut Ekonomi Indonesia dalam Posisi Kuat di Tengah Eskalasi Konflik Geopolitik

Pajak.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat meskipun dunia tengah menghadapi eskalasi konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap solid dan mampu menjadi penyangga (shock absorber) bagi perekonomian nasional.

Purbaya menjelaskan bahwa hingga Maret 2026, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) masih berada di kisaran 68 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, meskipun harga minyak mentah Brent sempat menembus 100 dolar AS per barel. Angka tersebut masih berada di bawah asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.

“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi teman-teman gak usah khawatir,” ujar Purbaya dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Jumat (13/3/2026).

Optimisme pemerintah juga didukung oleh kinerja sektor riil yang menunjukkan penguatan signifikan. Indeks manufaktur (Purchasing Managers’ Index/PMI) Indonesia pada Februari 2026 mencapai 53,8, yang merupakan level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Capaian tersebut menempatkan Indonesia berada di atas sejumlah negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.

“Ekonomi kita sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Jadi teman-teman tidak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif gejolak global ke depan,” tambahnya.

Dari sisi konsumsi, indikator daya beli masyarakat juga dinilai tetap kuat. Mandiri Spending Index tercatat meningkat hingga level 360,7 persen pada Februari 2026. Selain itu, penjualan mobil juga tumbuh dua digit, yaitu sebesar 12 persen. Purbaya pun menepis anggapan bahwa daya beli masyarakat melemah, karena Indeks Keyakinan Konsumen masih bertahan di atas level 100.

Dari sisi kinerja APBN, hingga akhir Februari 2026 pendapatan negara tercatat sebesar Rp358 triliun atau sekitar 11,4 persen dari target APBN. Angka tersebut tumbuh 12,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat sangat kuat hingga 30,4 persen.

Sementara itu, belanja negara mencapai Rp493,8 triliun atau sekitar 12,8 persen dari pagu APBN. Realisasi tersebut melonjak 41,9 persen dibandingkan tahun lalu sebagai bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat belanja negara sejak awal tahun guna mendorong pertumbuhan ekonomi secara lebih merata.

Dengan dinamika tersebut, defisit APBN tercatat sebesar Rp135,7 triliun atau sekitar 0,53 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yang dinilai masih berada dalam batas aman.

“Jadi secara keseluruhan kombinasi pendapatan negara yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi untuk mendorong ekonomi, serta defisit yang tetap terkendali, menunjukkan bahwa APBN terus berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkasnya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *