in

Bos BI Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh hingga 5,7 Persen pada 2026, Ini Penjelasannya!

Bos BI Proyeksi Ekonomi RI Tumbuh hingga 5,7 Persen pada 2026, Ini Penjelasannya!

Pajak.com, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen di tengah tantangan ekonomi global.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut didorong oleh penguatan permintaan domestik yang tetap solid. Berbagai indikator menunjukkan kinerja ekonomi pada awal tahun 2026 mengalami peningkatan, terutama dari sisi konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.

“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen,” ujar Perry dalam konferensi pers pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 21-22 April 2026, dikutip Pajak.com pada Kamis (23/4/2026).

Kendati demikian, Perry menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus didorong sehingga tetap baik di tengah memburuknya kondisi dan prospek ekonomi global.

Dalam kesempatan tersebut, Perry juga menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga tercatat meningkat seiring terjaganya keyakinan pelaku ekonomi dan kondisi pendapatan masyarakat. Selain itu, momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H turut mendorong kenaikan permintaan domestik yang berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi fiskal, belanja pemerintah juga mengalami peningkatan. Hal ini didukung oleh penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR), peningkatan belanja sosial, serta berbagai insentif termasuk transfer ke daerah yang ikut menopang aktivitas ekonomi nasional.

Sementara itu, lanjut Perry, investasi khususnya pada sektor bangunan, tetap menunjukkan kinerja yang baik. Akselerasi investasi ini didorong oleh pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi jangka menengah.

Di tengah prospek ekonomi global yang melemah, BI bersama pemerintah terus memperkuat respons kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan. Fokus kebijakan diarahkan pada penguatan sumber pertumbuhan dari dalam negeri guna mengurangi dampak perlambatan ekonomi dunia.

Menurut Perry, untuk mendukung proyeksi tersebut BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan ini disinergikan dengan langkah pemerintah, termasuk program prioritas yang berfokus pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan permintaan domestik, serta penguatan ketahanan fiskal.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan tetap terjaga dan mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlanjut.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *