KSSK Optimistis Ekonomi RI Tumbuh 5 Persen pada Kuartal II-2025
Pajak.com, Jakarta – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) optimistis bahwa perekonomian Indonesia tetap berada di jalur positif dengan pertumbuhan diperkirakan mencapai 5 persen pada kuartal II-2025, di tengah ketidakpastian global yang terutama dipengaruhi oleh dinamika negosiasi tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan eskalasi ketegangan geopolitik.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menilai bahwa koordinasi dan sinergi lintas otoritas terus diperkuat untuk menjaga stabilitas sistem keuangan (SSK) dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“KSSK telah menyelenggarakan rapat berkala KSSK III tahun 2025 pada Jumat, 25 Juli 2025. Rapat tersebut menyepakati untuk terus memperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan antarlembaga anggota KSSK maupun dengan kementerian/lembaga lain, dalam upaya memastikan agar SSK senantiasa terjaga, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Selasa (29/7/25).
Menurut Sri Mulyani, konsumsi masyarakat dan daya beli tetap positif, ditopang aktivitas dunia usaha yang cukup tangguh. Di sisi fiskal, peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terus dioptimalkan melalui fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi.
Pemerintah terus menggulirkan stimulus ekonomi, menjalankan program strategis, serta memberikan dukungan pada sektor-sektor prioritas dan rentan. Hal ini dilakukan guna menjaga momentum pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, dan memperluas basis ekonomi nasional.
“Stimulus ekonomi, dorongan implementasi program strategis, dukungan bagi sektor prioritas, serta bantalan untuk sektor yang rentan terus diberikan pemerintah,” jelasnya.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan mencatatkan surplus sebesar 15,38 miliar dolar AS secara tahunan (year to date/ytd) hingga Mei 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 13,06 miliar dolar AS.
Bank Indonesia (BI) juga telah menurunkan suku bunga dan melonggarkan likuiditas guna mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas. Insentif likuiditas makroprudensial ditingkatkan sebagai bagian dari bauran kebijakan untuk menopang pertumbuhan.
Dampak Negosiasi Tarif Resiprokal dengan AS
Sri Mulyani menjelaskan bahwa, salah satu faktor pendorong optimisme KSSK adalah keberhasilan pemerintah dalam menegosiasikan tarif dagang resiprokal dengan AS. Tarif ekspor produk Indonesia ke AS yang semula 32 persen diturunkan menjadi 19 persen, sebuah langkah strategis yang diyakini akan mengangkat kembali daya saing sektor-sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur.
Di sisi lain, implementasi tarif impor 0 persen atas produk asal AS diprediksi akan membantu menurunkan harga produk migas dan pangan di dalam negeri, yang pada gilirannya akan menekan inflasi dan memperkuat daya beli masyarakat.
“Implementasi tarif impor 0 persen atas produk asal AS diprakirakan mendorong harga produk migas dan pangan domestik lebih rendah,” jelasnya.
Meski demikian, KSSK tetap menaruh perhatian terhadap sektor manufaktur yang masih menunjukkan kontraksi. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2025 berada di level 46,9, di bawah ambang ekspansi.
Untuk itu, pemerintah terus mendorong peran swasta sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi dengan mempercepat deregulasi dan mengoptimalkan peran instrumen investasi strategis seperti Danantara.
“Respons bauran kebijakan ekonomi nasional akan terus ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk aktif menjajaki potensi kerja sama, baik bilateral maupun multilateral,” jelas Sri Mulyani.

Comments