APBN Alami Defisit Rp54,6 Triliun atau 0,21 Persen dari PDB pada Januari 2026
Pajak.com, Jakarta – Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga 31 Januari 2026 mencatat defisit Rp54,6 triliun atau 0,21 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa angka tersebut masih sangat terkendali dan tetap berada dalam koridor desain APBN 2026 yang dirancang dengan target defisit sebesar 2,53 persen terhadap PDB atau sekitar Rp689,1 triliun.
“Posisi defisit APBN tercatat mencapai Rp54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB,” Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA edisi Januari, dikutip Pajak.com pada Senin (23/2/2026).
Purbaya menyampaikan bahwa secara keseluruhan kinerja APBN pada bulan pertama tahun 2026 tercatat solid. Pendapatan negara tercatat sebesar Rp172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp3.153,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 9,5 persen secara year on year/yoy dibanding dengan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar Rp157,8 triliun.
Dari sisi komposisi, penerimaan perpajakan mencapai Rp138,9 triliun atau 5,2 persen dari target Rp2.693,7 triliun. Di dalamnya, penerimaan pajak tercatat Rp116,2 triliun atau 4,9 persen dari target Rp2.357,7 triliun. Sementara itu, kepabeanan dan cukai terealisasi Rp22,6 triliun atau 6,7 persen dari target Rp336,0 triliun.
Untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), realisasi mencapai Rp33,9 triliun atau 7,4 persen dari target Rp459,2 triliun.
Di sisi lain, belanja negara terealisasi sebesar Rp227,3 triliun atau 5,9 persen dari pagu Rp3.842,7 triliun, tumbuh 25,7 persen secara yoy.
Lebih rinci, untuk belanja pemerintah pusat mencapai Rp131,9 triliun atau 4,2 persen dari pagu APBN 2026 yang sebesar Rp3.149,7 triliun, yang terdiri dari belanja kementerian/lembaga (K/L) Rp55,8 triliun dan belanja non-K/L sebesar Rp76,1 triliun. Sedangkan transfer ke daerah (TKD) tercatat Rp95,3 triliun atau 13,8 persen dari target Rp693,0 triliun.
Sementara itu, keseimbangan primer menunjukkan defisit Rp4,2 triliun atau sekitar 4,7 persen dari target dalam APBN 2026 yang sebesar Rp89,7 triliun. Adapun, untuk realisasi pembiayaan hingga Januari 2026 mencapai Rp105,1 triliun atau sekitar 15,2 persen dari target APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun.
Purbaya menyampaikan bahwa secara keseluruhan APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi. Dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, dan defisit yang tetap terkendali, ia optimistis APBN akan mampu menjaga stabilitas fiskal dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026.
“Kita optimistis APBN akan terus menjaga stabilitas sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026,” pungkasnya.

Comments