in ,

Menteri Airlangga Apresiasi Toyota, Setor Pajak Rp23 Triliun dan Ekspor 3 Juta Mobil ke 100 Negara

Foto: Dok. TMMIN

Menteri Airlangga Apresiasi Toyota, Setor Pajak Rp23 Triliun dan Ekspor 3 Juta Mobil ke 100 Negara

Pajak.com, Karawang  Kontribusi pajak Toyota Group di Indonesia terus menguat seiring kiprah panjangnya di industri automotif nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, Toyota bersama Toyota Astra Motor membayarkan pajak sekitar Rp23 triliun per tahun, termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

“Ini bayar pajaknya setiap tahun Rp23 triliun dari Toyota Motor [PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia/TMMIN] dan Toyota Astra [PT Toyota-Astra Motor], plus PPNBM jadi cukup signifikan,” kata Airlangga di acara pelepasan ekspor ke-3 juta unit kendaraan Toyota, di Pabrik TMMIN Karawang, Jawa Barat, dikutip Pajak.com, Minggu (12/10/2025).

Bukan itu saja, TMMIN juga diklaim menjadi salah satu penyumbang penting bagi pendapatan asli daerah (PAD) melalui pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB). Airlangga menyebutkan, kontribusi pajak tersebut tidak lepas dari luasnya ekosistem industri automotif yang dibangun Toyota di Indonesia.

Tercatat, terdapat lebih dari 240 pemasok lokal Tier-1 dan lebih dari 520 pemasok Tier-2 dan Tier-3, yang melibatkan industri baja, plastik, ban, kaca, hingga komponen automotif.

Baca Juga  GNV Consulting Kupas PMK 112/2025: Penggunaan “Tax Treaty” Kini Lebih Ketat

“Ekosistem ini menyerap lebih dari 60 ribu tenaga kerja. Artinya, industri automotif bukan hanya menopang pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Ia menegaskan, pemerintah memberikan apresiasi atas pencapaian monumental tersebut. Sejak ekspor pertama ke Brunei Darussalam pada 1987, Toyota kini telah menembus 100 negara tujuan ekspor, dengan total volume mencapai tiga juta unit kendaraan.

“Ini bukti nyata daya saing industri automotif Indonesia di kancah global,” kata Airlangga.

Pemerintah, lanjutnya, terus membuka pasar baru bagi industri automotif Indonesia, salah satunya melalui keanggotaan Indonesia dalam blok perdagangan CPTPP yang memungkinkan akses ekspor ke Meksiko. “Kami berharap ekspor Toyota ke Meksiko bisa meningkat dalam dua tahun ke depan,” imbuhnya.

Saat ini, kapasitas produksi Toyota di Indonesia mencapai sekitar 300 ribu unit per tahun. Toyota menguasai 32 persen pangsa pasar nasional, ditambah Daihatsu sebesar 17 persen, sehingga total keduanya mencapai hampir setengah pasar automotif Indonesia.

Baca Juga  Aturan Baru P3B: Praktisi Soroti Tantangan Perluasan Pengujian “Beneficial Owner” bagi Wajib Pajak

Selain berkontribusi terhadap penerimaan pajak, Airlanggga mengemukakan bahwa industri automotif juga menyokong 6 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional melalui rantai usaha yang luas—mulai dari manufaktur, leasing, diler, hingga bengkel dan layanan purna jual. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan domestik tahun ini diperkirakan mencapai 900 ribu unit, sedangkan ekspor sekitar 500 ribu unit.

“Untuk itu, sekali lagi kami ucapkan selamat dan juga kami mengapresiasi rencana tambahan investasi Toyota yang tadi disampaikan dalam rapat internal,” ungkap Airlangga.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Toyota Motor Corporation Koji Sato, menyatakan rasa terima kasih kepada Pemerintah Indonesia atas dukungan selama lima dekade kemitraan Toyota-Astra. Ia menegaskan, kisah Toyota di Indonesia adalah cerita kemitraan dan dedikasi untuk rakyat Indonesia.

“Kami bangga dapat mengatakan, kami membuat mobil di Indonesia, oleh orang Indonesia, untuk masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Koji Sato juga menyoroti dua tonggak penting dalam sejarah Toyota di Indonesia. Pertama, peluncuran Kijang pada 1977, kendaraan yang dirancang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia dan menjadi ikon keluarga hingga diekspor ke luar negeri. Kedua, kolaborasi Toyota dan Daihatsu pada awal 2000-an yang melahirkan model terjangkau seperti Avanza dan Xenia, simbol kendaraan buatan Indonesia yang berkualitas global.

Baca Juga  Aturan Baru P3B: Praktisi Soroti Tantangan Perluasan Pengujian “Beneficial Owner” bagi Wajib Pajak

Toyota, papar Koji Sato, kini terus memperkuat posisinya di Indonesia sebagai pusat riset, pengembangan, dan ekspor global, dengan total investasi mencapai Rp100 triliun. Dari nilai itu, lebih dari 360 ribu tenaga kerja terlibat dalam berbagai lini bisnis Toyota Group, mulai dari produksi, distribusi, hingga layanan purna jual.

“Melalui berbagai inovasi mobilitas, kami ingin berkontribusi meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan memberi kembali kepada negeri yang telah membentuk kami,” ujar Koji Sato.

Ke depan, tegas Koji Sato, Toyota berkomitmen mendukung transisi menuju masyarakat rendah karbon melalui perluasan produksi kendaraan elektrifikasi, termasuk mobil hibrida dan bioetanol, yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga menjaga rantai pasok pertanian domestik.

“Kami akan terus bekerja keras menghadirkan kendaraan yang semakin baik, demi senyum masyarakat Indonesia dan kemakmuran bangsa ini,” pungkasnya.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *