Investasi Hilirisasi di Indonesia Capai Rp584,1 Triliun Sepanjang 2025, Naik 43,3 Persen
Pajak.com, Jakarta – Realisasi investasi hilirisasi di Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau tumbuh 43,3 persen secara tahunan. Capaian tersebut menyumbang 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional sepanjang 2025.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan bahwa akselerasi investasi hilirisasi tidak hanya terjadi di sektor mineral, tetapi juga mulai meluas ke berbagai sektor lain.
“Hilirisasi dari bulan Januari sampai Desember 2025, ini sudah mencapai angka 584,1 triliun rupiah dan menyumbang 30,2 persen dari total realisasi investasi dan bahkan realisasi sektor hilirisasi di tahun 2025 ini berhasil naik 43,3 persen. Memang hilirisasi di berbagai sektor ini sudah mulai berjalan sangat baik, terakselerasi,” ujar Rosan dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Sabtu (17/1/26).
Dari sisi sektor, investasi hilirisasi terbesar masih berasal dari sektor mineral dengan total Rp373,1 triliun. Kontribusi tersebut didominasi oleh nikel sebesar Rp185,2 triliun, disusul tembaga Rp65,9 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 triliun, serta komoditas mineral lainnya seperti pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batubara, dan aspal Buton sebesar Rp18,4 triliun.
Selain mineral, sektor perkebunan dan kehutanan mencatatkan investasi hilirisasi sebesar Rp144,5 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari kelapa sawit Rp62,8 triliun dan kayu log Rp62,2 triliun, diikuti karet Rp12,9 triliun serta komoditas lainnya seperti pala, pinus, kelapa, kakao, dan biofuel sebesar Rp6,6 triliun.
Sektor minyak dan gas bumi juga mencatatkan realisasi investasi hilirisasi sebesar Rp60,0 triliun, yang terdiri atas minyak bumi Rp41,7 triliun dan gas bumi Rp18,3 triliun. Sementara itu, sektor perikanan dan kelautan menyumbang Rp6,4 triliun, mencakup komoditas garam, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, dan tilapia.
Rosan menekankan bahwa fokus hilirisasi ke depan tidak hanya pada mineral. “Kembali lagi saya ingin sampaikan bukan yang di mineral yang memang secara konsisten biasanya kalau kita bicara hilirisasi biasanya kliknya, oh ke mineral gitu ya. Nah sekarang kita lebih introduce ke perkebunan,” ujarnya.
Secara wilayah, investasi hilirisasi masih didominasi oleh luar Jawa dengan nilai Rp415,4 triliun atau 71,1 persen, sedangkan Jawa berkontribusi Rp168,7 triliun atau 28,9 persen. Lima lokasi terbesar investasi hilirisasi meliputi Sulawesi Tengah Rp110,0 triliun, Maluku Utara Rp74,8 triliun, Jawa Barat Rp71,4 triliun, Banten Rp41,3 triliun, dan Jawa Timur Rp36,7 triliun.
Berdasarkan sumber pendanaan, penanaman modal asing (PMA) mendominasi investasi hilirisasi dengan porsi 73,5 persen atau Rp429,6 triliun. Adapun penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang 26,5 persen atau Rp154,5 triliun.
Untuk negara asal PMA, Singapura menjadi investor terbesar dengan nilai 7,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS), diikuti Hong Kong, RRT sebesar 6,2 miliar dolar AS, R.R. Tiongkok 4,8 miliar dolar AS, Malaysia 3,0 miliar dolar AS, dan Amerika Serikat 1,6 miliar dolar AS.
Rosan juga menegaskan bahwa hilirisasi membawa dampak luas bagi perekonomian nasional. “Kalau kita bicara hilirisasi, itu sebab value added-nya, nilai tambah yang kita mau capture di Indonesia. Kenapa kita mau capture di Indonesia? Karena memang dampak secara ekonomisnya itu berkali-kali lipat,” katanya.
Menurutnya, hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mendorong penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, serta penguatan kapasitas manufaktur dan sumber daya manusia nasional.
“Dengan teknologi yang baru, mereka bisa langsung belajar secara langsung. Jadi hal-hal itu yang tertuang dalam hilirisasi tidak semata-mata hanya untuk kepentingan ekonomis saja, tapi juga untuk kepentingan yang lebih besar lainnya,” jelas Rosan.

Comments