Menu
in ,

Bagaimana Prospek IHSG Pekan Ini?

Bagaimana Prospek IHSG Pekan Ini?

FOTO: IST

Pajak.com, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,44 persen ke 6.094,87, pada Jumat (10/9). Namun, kinerja IHSG masih menurun 0,52 persen dibandingkan minggu sebelumnya atau periode 30 Agustus hingga 3 September. Lantas, bagaimana prospek IHSG pekan ini?

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menuturkan, prospek IHSG sepanjang pekan ini diwarnai oleh sentimen tapering The Federal Reserve System (The Fed) yang mulai mereda. Pada saat yang bersamaan, IHSG juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS), antara lain data ketenagakerjaan non-pertanian atau non-farm payroll AS yang jauh di bawah ekspektasi.

Departemen tenaga kerja AS melaporkan, hanya ada 235.000 pekerjaan pada Agustus, setelah lonjakan 1,05 juta pekerjaan pada Juli. Data itu memberikan keraguan ke pelaku pasar soal pelaksanaan kebijakan pengetatan moneter AS ke depan, baik tapering ataupun kenaikan suku bunga.

“Pekan ini data inflasi AS kembali bakal mempengaruhi pergerakan indeks domestik. Pergerakan IHSG juga akan diramaikan oleh rilis data ekspor impor serta neraca perdagangan. Indeks (IHSG) akan cenderung menguat, namun terbatas,” kata Herditya, pada (12/9).

Secara spesifik, ia memperkirakan, IHSG pekan ini akan bergerak pada rentang 5.982-6.150.

Optimistis senada juga diungkapkan oleh Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan. Ia pun memperkirakan IHSG bakal menguat dengan rentang pergerakan 6.009 hingga 6.130. Prediksi itu dilatarbelakangi oleh pelaku pasar yang belakangan kembali bargain hunting, setelah pelemahan beberapa hari terakhir membuat indeks masuk area oversold.

“Rebound sejumlah harga komoditas juga akan memperkuat pergerakan indeks. Namun, penguatan ini diperkirakan hanya bersifat sementara karena pasar masih mengantisipasi kelanjutan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) pekan ini,” terang Dennies.

Di tengah IHSG yang diproyeksi melanjutkan penguatan, analis mencermati saham-saham—berpotensi menguat—berikut ini:

1. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)

Secara teknikal, SCMA membentuk formasi morning star mengindikasikan potensi penguatan jangka pendek. Analis memprediksi, saham ini masuk di harga Rp 2.020 sampai Rp 2.060 per saham. Stop loss di Rp 2.000 per saham. Adapun target harganya dipatok Rp 2.100 hingga Rp 2.140 per saham.

2. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON)

Saham ini mengalami koreksi, tetapi masih berada di atas level support. Investor disarankan masuk di harga Rp 462 hingga Rp 470 per saham. Stop loss di Rp 456 per saham. Target harga PWON berada di kisaran Rp 480 sampai Rp 490 per saham.

3. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)

Saham KLBF mengalami koreksi namun masih berada di atas level support. Stop loss di Rp 1.400 per saham dan target harga KLBF di Rp 1.500 – Rp 1.530 per saham.

Sebelumnya, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) merilis kinerja pasar modal di minggu kedua September 2021, yang meliputi rata-rata volume transaksi harian bursa mencatatkan peningkatan 6,75 persen menjadi 21,241 miliar saham dari 19,898 miliar saham pada pekan lalu; rata-rata frekuensi harian bursa terjadi peningkatan sebesar 3,86 persen menjadi 1.377.779 transaksi dari 1.326.596 transaksi; rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) meningkat tipis sebesar 0,82 persen menjadi Rp 11,09 triliun dari Rp 11 triliun.

“IHSG pada penutupan perdagangan Jumat berada di zona hijau. Kemudian, nilai kapitalisasi pasar bursa turut mengalami perubahan tipis sebesar 0,07 persen menjadi Rp 7.369,549 triliun dari Rp 7.374,530 triliun,” kata Sekretaris Perusahaan BEI Yulianto Aji Sadono.

Selanjutnya, untuk Investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 257,28 miliar, sedangkan sepanjang tahun 2021 aksi beli bersih sebesar Rp 22,433 triliun.

Leave a Reply