5 Subsektor Penyumbang Investasi Terbesar di Kuartal II-2025: Industri Logam Dominasi
Pajak.com, Jakarta – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan bahwa kontribusi subsektor strategis terhadap total investasi nasional pada kuartal II-2025 menunjukkan pertumbuhan signifikan. Industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar dengan realisasi investasi mencapai Rp67,1 triliun atau sekitar 14,1 persen dari total investasi nasional.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menjelaskan, untuk subsektor pertambangan menempati posisi kedua dengan investasi sebesar Rp53,6 triliun atau 11,2 persen. Menurutnya, tren transisi energi hijau di tingkat global turut memengaruhi arah investasi. Dalam hal ini, Indonesia tetap berkomitmen untuk mencapai target net zero emission pada tahun 2060.
“Indonesia ini kan kita we are committed, to have net zero emission by 2060. Nah persiapan itu tentu kita sudah siapkan,” ujar Rosan, dikutip Pajak.com pada Rabu (30/7/25).
Ia menyebut, salah satu rencana besar pemerintah dalam lima tahun ke depan adalah memastikan 76 persen pembangkit listrik berasal dari energi terbarukan. Hal ini memperbesar kebutuhan terhadap bahan baku logam dan mineral penting yang digunakan untuk infrastruktur hijau seperti panel surya, pembangkit panas bumi, hingga kendaraan listrik.
Di luar dua subsektor utama tersebut, kontribusi besar juga datang dari jasa lainnya dengan nilai investasi sebesar Rp44,8 triliun atau 9,4 persen. Disusul oleh transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar Rp44,2 triliun (9,3 persen), serta perdagangan dan reparasi yang mencatat Rp40 triliun (8,4 persen).
Dari sisi klasifikasi sektor ekonomi, sektor tersier masih mendominasi dengan kontribusi sebesar 44,3 persen. Sektor sekunder memberikan kontribusi 39,7 persen, sedangkan sektor primer sebesar 16 persen.
Lebih jauh berdasarkan asal modal, Penanaman Modal Asing (PMA) di subsektor industri logam dasar menjadi yang tertinggi dengan nilai mencapai 3,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS), setara dengan 28,8 persen dari total PMA.
Pertambangan menyusul dengan 1,3 miliar dolar AS (10 persen), dan jasa lainnya sebesar 1,1 miliar dolar AS (8,8 persen). Sementara itu, investasi di industri kimia dan farmasi tercatat senilai 0,7 miliar dolar AS (5,1 persen), serta kawasan industri dan perkantoran juga ikut mencatatkan kontribusi signifikan sebesar 0,6 miliar dolar AS (4,9 persen).
Pada kategori Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), subsektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi menyumbang Rp35,3 triliun atau 12,8 persen. Pertambangan juga tetap berkontribusi signifikan sebesar Rp33,5 triliun (12,2 persen), diikuti perdagangan dan reparasi Rp32,2 triliun (11,7 persen), kawasan industri dan perkantoran Rp27,6 triliun (10 persen), serta jasa lainnya sebesar Rp27 triliun (9,8 persen).
Rosan menegaskan bahwa arah kebijakan investasi pemerintah kini berfokus pada subsektor-sektor yang memiliki daya dorong besar terhadap perekonomian jangka panjang, termasuk pengembangan energi hijau dan peningkatan nilai tambah sumber daya alam. Pemerintah juga mengarahkan investasi berdasarkan keunggulan wilayah, seperti geothermal di Jawa dan Sumatera, demi mengoptimalkan potensi sumber daya lokal secara berkelanjutan.
“Misalnya kalau di Jawa dan Sumatera kita lebih mendorong ke investasi kita arahkan ke geothermal. Karena memang kita kan juga sebagai negara salah satu mempunyai potensi terbesar di dunia untuk geothermal Jadi itu juga kita sesuaikan dengan karakteristik dari keunggulan juga dari setiap daerah,” jelasnya.

Comments