Purbaya Akui Ekonomi Indonesia Melambat Saat Dirinya Ditunjuk Jadi Menteri Keuangan
Pajak.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tengah mengalami perlambatan signifikan ketika dirinya ditunjuk memimpin Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia menyebut, perlambatan tersebut terjadi akibat kebijakan fiskal dan moneter yang kurang tepat dalam satu tahun terakhir.
“Waktu saya diperintah dikasih tugas menjadi menteri keuangan, ekonomi kita sedang melambat cukup signifikan. Tanpa orang sadari sepertinya sejak setahun terakhir bahkan setahun setengah terakhir ya. Ekonomi diperlambat dengan kebijakan fiskal dan moneter yang tidak terlalu akurat,” ujar Purbaya dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2025 di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Kamis (30/10/25).
Ia mengaku kerap menyampaikan kritik terhadap kebijakan ekonomi sebelumnya. Menurutnya, kritik justru diperlukan agar kesalahan dalam pengelolaan kebijakan dapat diperbaiki.
Purbaya menjelaskan, sempat terjadi tanda-tanda pemulihan ekonomi hingga April 2025, namun sejak Mei hingga Agustus, perekonomian kembali tertekan akibat berkurangnya likuiditas di sistem keuangan.
“Sampai April tahun ini sepertinya bagus, sudah ada recovery perbaikan kebijakan. Tapi Mei, Juni, Juli, Agustus ekonomi dicekik lagi dengan seperti menghilangnya uang dari sistem perekonomian,” tuturnya.
Ia kemudian menjelaskan pentingnya penerapan kebijakan yang counter-cyclical, yaitu kebijakan yang mampu menahan gejolak ketika ekonomi naik dan mendorong pertumbuhan saat ekonomi menurun. Namun, Purbaya menilai kebijakan yang diterapkan sebelumnya justru bersifat pro-cyclical, yang memperparah pelemahan ekonomi.
“Kita kan selalu counter cycle, kan diperlambat sedikit boleh. Tapi kalau lagi turun kita dorong ekonominya, itu yang disebut counter-cyclical measure. Kalau ekonomi jatuh seperti itu, kalau kita kenain pajak di mana-mana, ya bukan counter-cyclical, itu pro-cyclical. Lagi jatuh akan semakin jatuh lagi,” jelasnya.
Menurut Purbaya, kebijakan menaikkan pajak saat ekonomi sedang tertekan hanya akan memperdalam perlambatan dan menurunkan penerimaan negara.
“Saya bisa kenakan pajak seperti itu, tapi enggak ada gunanya. Makin jatuh ekonominya, pendapatan pajak juga makin kecil kan? Saya naikin lagi pajak, makin kecil lagi pajak,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila kebijakan tersebut terus dipertahankan, perekonomian nasional berpotensi mengalami kontraksi yang lebih parah. Namun, ia memastikan dirinya tidak akan mengambil langkah serupa.
“Akibatnya ya ekonominya akan terus turun ke bawah. Mungkin “keresiasi” yang mungkin parah. Untungnya saya ekonomi betulan, saya enggak sebodoh itu keliatannya. Agak pinter dikit lah,” imbuhnya.
Sebagai respons, Purbaya memilih mengambil langkah optimalisasi dana pemerintah yang mengendap di perbankan, ketimbang langsung melakukan ekspansi fiskal besar-besaran. Ia mengaku menggunakan pendekatan pro-cyclical ringan tanpa menambah beban fiskal secara berlebihan.
“Artinya saya belum sampai ke titik ekspansi fiskal. Yang saya kerjakan adalah mengoptimalkan semua uang-uang yang ada di tangan saya semua,” jelasnya.
Purbaya mengungkapkan bahwa setiap tahun pemerintah masih menyimpan sisa dana sekitar Rp400 triliun hingga Rp500 triliun di bank sentral. Dana tersebut kemudian dipercepat penggunaannya untuk mendorong aktivitas ekonomi.
Dari jumlah tersebut, ia mengalirkan sekitar Rp200 triliun ke perbankan agar segera digunakan untuk mendukung kegiatan ekonomi riil.
“Saya balikin Rp200 triliun persisting ekonomi. Orang bilang, itu langkah yang luar biasa. Padahal itu langkah yang paling gampang, enggak mikir. Cuma saya pindahin uang saya dari BI [Bank Indonesia] ke perbankan, udah,” ungkapnya.
Purbaya menambahkan, langkah tersebut sebenarnya tidak disertai persyaratan ketat bagi perbankan, karena tujuannya semata untuk memperlancar perputaran uang di perekonomian. Meski dilakukan dengan cepat, ia menegaskan kebijakan tersebut tetap sesuai dengan prosedur.
“Padahal itu enggak ada syarat. Mereka bisa belanjakan suka-suka mereka sebetulnya. Ada yang conditionality itu saya taruh. Karena memang prosedurnya seperti itu. Enggak apa-apa selama masih bisa jalan semuanya,” pungkasnya.

Comments