in ,

Pemerintah Salurkan LPG Lewat Skema Alternatif Pascabencana di Aceh

foto : ist

Pemerintah Salurkan LPG Lewat Skema Alternatif Pascabencana di Aceh

Pajak.com, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan skema distribusi alternatif untuk memastikan pasokan Liquified Petroleum Gas (LPG) tetap tersedia bagi masyarakat pascabencana di Provinsi Aceh. Langkah ini ditempuh menyusul terputusnya sejumlah jalur distribusi utama yang memicu kemacetan dan antrean di beberapa titik layanan.

Ketua Tim ESDM Siaga Bencana Rudy Sufahriadi menjelaskan bahwa percepatan pemulihan distribusi LPG terus dilakukan, terutama di Aceh yang masih menghadapi kendala akses.

“Kami terus lakukan upaya ekstra di Aceh karena beberapa jalur distribusi utama masih terputus. Sementara di Sumatera Barat dan Sumatera Utara, penyaluran LPG berangsur membaik,” ujar Rudy di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Selasa (16/12/25).

Berdasarkan data lapangan, rata-rata penyaluran LPG di Provinsi Aceh selama periode 1–13 Desember 2025 tercatat sebesar 301 metrik ton per hari. Dari jumlah tersebut, LPG Public Service Obligation (PSO) atau elpiji bersubsidi disalurkan rata-rata 247 metrik ton per hari, sedangkan LPG non-PSO mencapai 53 metrik ton per hari. Angka penyaluran LPG non-PSO tersebut meningkat signifikan dibandingkan kondisi normal yang rata-ratanya hanya sekitar 23 metrik ton per hari.

Salah satu hambatan utama distribusi di Aceh adalah terputusnya jalur pasokan dari Terminal LPG Arun menuju Aceh Besar. Untuk menjaga pasokan tetap berjalan dan menekan antrean, Tim Siaga Bencana ESDM menerapkan pola distribusi alternatif ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

“Penyaluran LPG Bright Gas untuk wilayah terisolir, seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah dilakukan menggunakan jalur udara [sling load] dengan helikopter milik BNPB,” jelas Rudy.

Sementara itu, kondisi penyaluran LPG di Sumatera Barat dan Sumatera Utara menunjukkan tren yang lebih stabil. Di Sumatera Barat, selama periode 1 hingga 13 Desember 2025, rata-rata penyaluran LPG mencapai 516 metrik ton per hari, lebih tinggi dibandingkan rata-rata harian normal sebesar 506 metrik ton per hari. Jumlah tersebut terdiri atas LPG PSO sebesar 492 metrik ton per hari dan LPG non-PSO sebesar 24 metrik ton per hari.

Adapun di Sumatera Utara, rata-rata penyaluran LPG tercatat sebesar 1.773 metrik ton per hari, meningkat dari kondisi normal yang berada di kisaran 1.663 metrik ton per hari. Penyaluran tersebut merupakan gabungan dari LPG PSO sebesar 1.741 metrik ton per hari dan LPG non-PSO sebesar 32 metrik ton per hari.

Dari sisi infrastruktur, Rudy menyampaikan bahwa seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Energi (SPBE) di ketiga provinsi telah beroperasi. Di Aceh terdapat 11 SPBE, Sumatera Utara 46 SPBE, dan Sumatera Barat 14 SPBE.

Untuk tingkat agen, Sumatera Barat dan Sumatera Utara telah beroperasi penuh dengan masing-masing 172 agen dan 383 agen. Sementara di Aceh, masih terdapat 14 agen yang belum beroperasi, sedangkan 119 agen lainnya sudah kembali melayani masyarakat.

Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga juga melakukan langkah tambahan untuk memperkuat pasokan LPG ke Aceh. Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra mengatakan bahwa Pertamina awalnya mengoperasikan dua kapal roll-on/roll-off (roro) dengan rute Lhokseumawe hingga Banda Aceh, dan akan menambah satu kapal lagi untuk mendukung distribusi LPG.

“Selain itu, hari ini kami juga memberangkatkan lima truk tanki dari Dumai, Sumbagsel, dan juga dari Jawa Barat menuju ke Lhokseumawe. Ini untuk melakukan tambahan pasokan ke Banda Aceh. Menyusul ke depan, ini sudah ada tambahan sembilan truk tanki yang kita antar ke Lhokseumawe untuk melakukan tambahan pasokan ke Banda Aceh dan sekitarnya,” pungkas Mars Ega.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *