Pemerintah Perkuat Kemitraan Strategis untuk Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi di 2026
Pajak.com, Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berkomitmen untuk memperkuat kemitraan strategis di sektor perdagangan, pariwisata, dan investasi guna mengawal prospek ekonomi Indonesia pada 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa dengan ketahanan ekonomi nasional yang tetap solid di tengah tekanan global, pemerintah mendorong sinergi yang lebih erat antara pelaku usaha, investor, dan mitra internasional untuk menjaga momentum pertumbuhan.
“Forum ini hadir di saat yang krusial. Menjelang tahun 2026, Indonesia tetap tangguh, melanjutkan perjalanannya sebagai salah satu negara dengan perekonomian paling dinamis dan menjanjikan di dunia. Untuk mengoptimalkan seluruh potensinya, kita membutuhkan sinergi kolaboratif,” tutur Airlangga dalam acara the 3rd Trade, Tourism, and Investment Business Forum bertema Indonesian Economic Outlook 2026: Strategic Partnerships for Business, Trade, and Tourism Investment, dikutip Pajak.com pada Rabu (3/12/25).
Airlangga memaparkan bahwa sejumlah indikator fundamental menunjukkan penguatan signifikan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur berada pada level 53,3 per November, menandakan ekspansi sektor industri. Indeks Keyakinan Konsumen mencapai 121,2 pada Oktober, sementara pengeluaran rumah tangga meningkat menjadi 312,8 pada pertengahan November.
Di sisi perdagangan luar negeri, Indonesia terus mencatatkan kinerja positif dengan surplus sebesar 35,88 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang Januari hingga Oktober 2025. Capaian tersebut menandai surplus beruntun selama 66 bulan sejak Mei 2020.
Pemerintah juga menyiapkan rangkaian program akhir tahun untuk mempercepat konsumsi rumah tangga. Mulai dari diskon berbagai moda transportasi pada 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026, penyelenggaraan EPIC Sale, Harbolnas, hingga Program BINA. Selain itu, terdapat 37 agenda pariwisata besar sepanjang Desember yang diproyeksi menggerakkan sektor ritel dan pariwisata dengan nilai transaksi mencapai Rp120 triliun.
Kinerja pariwisata turut menunjukkan tren positif. Kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 12,75 juta pada Januari hingga Oktober 2025. Sementara perjalanan wisatawan nusantara menembus 96 juta pada Oktober, tumbuh sekitar 18 persen secara tahunan.
Dari sisi kebijakan fiskal, prospek 2026 didukung oleh pelaksanaan APBN yang dirancang untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan inklusif. Pemerintah menyiapkan belanja sekitar Rp2.500 triliun atau 150 miliar dolar AS untuk program prioritas seperti ketahanan pangan, ketahanan energi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan pendidikan. Belanja strategis ini diperkirakan memberikan multiplier effect besar bagi perekonomian tahun depan.
Investasi juga mencatat kinerja kuat hingga kuartal III-2025. Realisasi investasi Januari hingga September mencapai Rp1.434,3 triliun atau 85 miliar dolar AS, tumbuh 13,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menciptakan 1,95 juta lapangan kerja baru.
Pada sektor pariwisata, realisasi investasi semester I-2025 mencapai Rp34,02 triliun atau 59,8 persen dari target tahunan, naik 44,03 persen dibandingkan semester I-2024.
Untuk memperkuat daya saing, pemerintah menyediakan berbagai fasilitas insentif, mulai dari tax holiday, tax allowance, pembebasan bea masuk untuk impor mesin dan bahan baku, hingga super tax deduction 200 persen untuk vokasi dan 300 persen untuk riset dan pengembangan.
“Kita hadir di sini tak hanya untuk menunjukkan stabilitas ekonomi dan prospek pertumbuhan kita, namun juga peluang menarik yang menanti di berbagai sektor utama seperti bisnis, perdagangan, dan investasi pariwisata. Saya menantikan diskusi yang mendalam dan kolaborasi kemitraan strategis yang mampu mendorong kemajuan Indonesia dan menghasilkan kesejahteraan bersama,” pungkasnya.

Comments