in ,

Wamenkeu Klaim Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Konflik Geopolitik

Wamenkeu Klaim Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Resilien di Tengah Konflik Geopolitik

Pajak.com, Jakarta – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan resilien di tengah meningkatnya ketidakpastian global, termasuk dampak konflik geopolitik yang memicu tekanan pada perekonomian dunia.

Juda memastikan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dilakukan secara pruden dan fleksibel untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Fundamental ekonomi kita masih kuat dan resilient. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, dan defisit fiskal masih di bawah batas yang ditetapkan undang-undang,” ujar Juda dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) PB Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII), dikutip Pajak.com pada Jumat (6/3/2026).

Menurut Juda, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai skenario untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik global yang berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah memperkirakan kondisi fiskal Indonesia masih mampu mengantisipasi lonjakan harga minyak hingga kisaran 80 hingga 90 dolar Amerika Serikat (AS) per barel, dengan defisit APBN tetap terjaga di bawah batas aman 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Di tengah dinamika global tersebut, kinerja ekonomi domestik tetap menunjukkan ketahanan. Juda menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 5,11 persen. Sementara itu, pada kuartal IV-2025, pertumbuhan ekonomi bahkan mencapai sekitar 5,39 persen.

Dari sisi fiskal, pemerintah juga berhasil menjaga defisit anggaran pada level yang sehat. Defisit fiskal tercatat sekitar 2,92 persen dari PDB, masih berada di bawah batas maksimal 3 persen sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.

Selain itu, rasio utang pemerintah terhadap PDB juga dinilai masih terkendali. Juda menyebut rasio utang Indonesia berada di kisaran 40 persen dari PDB, jauh di bawah batas maksimal 60 persen yang ditetapkan undang-undang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan sejumlah negara dengan peringkat kredit setara.

Lebih lanjut, Juda menilai fundamental ekonomi yang kuat menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mencapai target menjadi negara maju pada 2045. Saat ini, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran 5.000 dolar AS, sementara standar negara maju berada di atas 13.000 dolar AS per kapita per tahun.

Ia juga menekankan pentingnya memanfaatkan momentum bonus demografi yang dimiliki Indonesia hingga sekitar 2035 hingga 2040 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Kalau kita melewatkan periode ini, kita berisiko menjadi negara yang tua sebelum kaya,” kata Juda.

Untuk mendukung agenda pembangunan jangka panjang tersebut, pemerintah tengah merancang APBN 2026 yang diarahkan pada penguatan pembangunan nasional. Total belanja negara diperkirakan mencapai Rp3.847 triliun, dengan penerimaan sekitar Rp3.153 triliun sehingga defisit tetap dijaga sekitar 2,68 persen dari PDB.

Menutup paparannya, Juda optimistis perekonomian Indonesia pada kuartal I-2026 dapat tumbuh lebih tinggi dibandingkan capaian pada akhir tahun sebelumnya. Momentum Ramadan serta pemberian tunjangan hari raya (THR) dinilai akan menjadi pendorong aktivitas ekonomi domestik, dengan baseline pertumbuhan berada di kisaran 5,5 persen.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *