Konsumsi Rumah Tangga Topang Perekonomian, Sumbang Hingga 55 Persen PDB
Pajak.com, Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama perekonomian Indonesia dengan kontribusi mencapai 54 hingga 55 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menegaskan bahwa peran kelas menengah sangat signifikan dalam mendorong aktivitas ekonomi, terutama melalui kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB.
“Kalau dilihat dari share-nya ke ekonomi kita, betapa pentingnya peran kelas menengah di Indonesia. Tidak hanya share-nya terhadap spending, konsumsi rumah tangga yang tadi disampaikan, komposisi PDB kita 54 hingga 55 persen adalah dari konsumsi rumah tangga,” ujarnya dalam IDE Katadata Future Forum 2026 di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa dinamika global, termasuk konflik geopolitik yang berdampak pada sektor energi dan logistik, berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global. Namun, struktur ekonomi Indonesia dinilai lebih tangguh karena tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri.
Sejumlah indikator makro ekonomi juga menunjukkan kondisi yang solid. Pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5 persen, inflasi terkendali, serta didukung oleh kinerja neraca perdagangan dan cadangan devisa yang kuat. Pemerintah pun optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026 dapat tercapai.
Di sisi lain, peran kelas menengah menjadi perhatian utama dalam menjaga daya beli masyarakat. Saat ini, kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencapai sekitar 66,35 persen dari total populasi atau sekitar 185,35 juta orang, sehingga menjadi tulang punggung konsumsi rumah tangga.
Namun, pemerintah juga mencermati adanya pergeseran sebagian kelas menengah ke kelompok menuju kelas menengah. Kondisi ini mencerminkan adanya tekanan terhadap daya beli, khususnya di wilayah perkotaan yang menjadi pusat aktivitas ekonomi.
Perubahan karakteristik kelas menengah juga terlihat dari pergeseran lapangan pekerjaan yang semakin didominasi sektor jasa, serta menurunnya proporsi pekerja formal. Selain itu, pola konsumsi juga berubah, dengan porsi pengeluaran yang lebih besar pada kebutuhan non-makanan seperti perumahan, transportasi, dan gaya hidup.
Susiwijono juga menyinggung fenomena Chilean Paradox, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tinggi tidak selalu diikuti pemerataan kesejahteraan. Hal ini menjadi pengingat penting agar kebijakan ekonomi tetap inklusif.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah terus memperkuat berbagai program untuk menjaga daya beli masyarakat, termasuk melalui bantuan sosial, insentif perpajakan, dukungan sektor perumahan melalui FLPP, serta insentif otomotif dan subsidi energi.
“Kami menyambut baik hasil survei dari Katadata. Nanti kita diskusi bersama-sama bagaimana data-data yang sudah disurvei dari teman-teman tadi, kita manfaatkan sebagai referensi utama di dalam membuat program-program ke depan. Sehingga kelas menengah kita yang menjadi tulang punggung penentu ekonomi Indonesia betul-betul kita dorong, kita berdayakan, dan berkontribusi positif untuk perekonomian nasional Indonesia,” pungkasnya.

Comments