in ,

Gejolak Iran vs AS – Israel, Wakil Purbaya “Pede” Kepercayaan Investor Tetap Kuat 

Gejolak Iran vs AS – Israel, Wakil Purbaya “Pede” Kepercayaan Investor Tetap Kuat 

Pajak.com, Jakarta – Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara percaya diri (pede) kepercayaan investor terhadap pengelolaan ekonomi Indonesia tetap kuat. Optimisme jajaran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa itu tecermin dari sejumlah data di tengah gejolak konflik Iran vs Amerika Serikat (AS) – Israel.

“Angka spread bunga Indonesia yang berada di sekitar 240 basis poin, lebih rendah dibandingkan rata-rata negara mitra yang berada di atas 250 basis poin. Makin kita konsisten, makin yield-nya itu bisa kita jaga dengan baik. Itulah refleksi dari confidence kepada pengelolaan makroekonomi dan APBN [Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara] Indonesia,” ungkap Suahasil dalam keterangannya kepada awak media di Kementerian Keuangan, dikutip Pajak.com pada Senin (16/3/2026).

Pada kesempatan yang berbeda, Purbaya menyebut bahwa APBN menunjukkan kinerja yang solid sebagai instrumen shock absorber di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Meski volatilitas pasar keuangan dan harga komoditas energi dunia sangat dinamis, ia menegaskan kembali bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam posisi yang sangat kuat.

Optimisme itu tecermin dari rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) hingga Maret 2026 masih berada di level 68 dolar AS per barel meskipun harga minyak mentah Brent sempat menembus level 100 dolar AS per barel. Angka ini masih berada di bawah asumsi APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.

“Sejauh ini masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026. Nanti kalau ke depan keadaan menekan lagi, kita akan tentunya mengatur APBN, tapi kita semua dalam berawal dari posisi yang kuat APBN-nya. Jadi, teman-teman enggak usah khawatir,” jelas Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kinerja dan Fakta (KiTa), pada (10/3/2026).

Keyakinan pemerintah turut didorong oleh performa sektor riil yang menunjukkan tren penguatan signifikan. Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia pada Februari 2026 mencapai level 53,8, angka tertinggi dalam dua tahun terakhir. Posisi ini menempatkan Indonesia lebih unggul dibandingkan negara-negara besar seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Australia.

“Ekonomi kita sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Jadi teman-teman tidak usah takut, kita bisa mengendalikan dampak negatif gejolak global ke depan,” tegas Purbaya.

Indikator daya beli masyarakat juga tercatat solid. Mandiri Spending Index meningkat ke level 360,7 persen pada Februari 2026, diikuti dengan pertumbuhan penjualan mobil yang mencapai dua digit (12 persen).

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *