in ,

Airlangga Bidik Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,5 Persen pada Kuartal I-2026

Airlangga Bidik Pertumbuhan Ekonomi RI Tembus 5,5 Persen pada Kuartal I-2026

Pajak.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bidik pertumbuhan ekonomi Indonesia tembus 5,5 persen pada kuartal I-2026. Ia juga optimistis bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini berada di atas 5,3 persen.

Airlangga menjelaskan, di tengah ketidakpastian global dengan proyeksi pertumbuhan dunia sekitar 2,6 persen hingga 3,3 persen menurut International Monetary Fund (IMF), Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), dan World Bank, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang solid. Sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,11 persen, menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara G20.

Kinerja tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), serta didukung oleh investasi dan belanja pemerintah. Selain itu, stabilitas sektor eksternal, kebijakan fiskal yang disiplin, dan koordinasi kelembagaan turut memperkuat fondasi ekonomi nasional.

“Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di atas 5,3 persen. Dan pada kuartal pertama tahun ini, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 5,5 persen,” ujar Airlangga dalam acara Media Briefing: Update on Economic and Reform Measures di Badan Komunikasi Pemerintah RI, dikutip Pajak.com, Selasa (14/4/2026).

Memasuki kuartal II-2026, kondisi ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Hal ini tecermin dari inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan selama 70 bulan berturut-turut, serta tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi. Sektor manufaktur juga masih berada dalam fase ekspansi dengan indeks 50,1, sementara cadangan devisa tercatat tetap kuat sebesar 148,2 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Dari sisi sektor eksternal, peningkatan ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, karet, nikel, tembaga, dan aluminium yang mencapai 47 miliar dolar AS turut memberikan natural hedging terhadap tekanan sektor minyak dan gas. Sementara itu, sektor perbankan nasional tetap solid dengan permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terjaga.

APBN juga terus memainkan peran sebagai shock absorber melalui berbagai program, seperti bantuan pangan, diskon transportasi, serta subsidi bahan bakar dan kompensasi dengan total sekitar Rp11,92 triliun. Defisit APBN pun tetap terjaga rendah di level 0,93 persen terhadap PDB per Maret 2026.

Selain itu, transaksi mata uang lokal Indonesia pada 2025 meningkat signifikan menjadi 25,6 miliar dolar AS, atau dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Kerja sama ini melibatkan sejumlah negara seperti Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan Tiongkok yang telah menerima sistem pembayaran QRIS Indonesia.

Di sisi sosial, berbagai indikator juga menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan turun menjadi 8,25 persen, pengangguran menurun ke level 4,7 persen, serta rasio gini membaik menjadi 0,363. Sepanjang 2025, realisasi investasi juga berhasil menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja baru.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *