in ,

Kemendag Tekankan Peran UMKM dalam Membangun Ketahanan Ekonomi Nasional 

FOTO : IST

Kemendag Tekankan Peran UMKM dalam Membangun Ketahanan Ekonomi Nasional 

Pajak.com, Jakarta – Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan fondasi utama perekonomian nasional yang tidak boleh diabaikan. Di tengah meningkatnya tantangan geoekonomi global, sektor UMKM dinilai menjadi kunci dalam memperkuat ketahanan rantai pasok dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“UMKM merupakan segmen yang paling terpengaruh oleh volatilitas global. Dengan demikian, kunci untuk membangun ketahanan ekonomi yaitu memastikan UMKM dapat berpartisipasi penuh dalam rantai nilai global,” jelas Roro dalam acara ASEAN-Japan Symposium di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Kamis (13/11/25).

Ia menjelaskan, hasil konsultasi antara menteri ekonomi ASEAN dengan Jepang pada September 2025 telah memetakan berbagai peluang strategis guna memperkuat kolaborasi ekonomi kawasan. Kedua pihak kini berfokus mengembangkan kerja sama ekonomi tradisional menuju aliansi geoekonomi strategis yang lebih tangguh dan adaptif, melalui lima prioritas utama.

Prioritas pertama adalah mendorong inovasi untuk memperkuat ketahanan rantai pasok. Kedua, mempercepat transformasi digital di seluruh sektor ekonomi.

Kemudian, yang ketiga yakni merangkul transisi energi untuk mempercepat penggunaan energi bersih dan ramah lingkungan. Keempat, memperkuat sektor otomotif sebagai tulang punggung manufaktur regional. Terakhir, meningkatkan kerangka kerja ASEAN–Jepang dengan menyempurnakan ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).

Lebih lanjut, Wamendag Roro menuturkan bahwa dunia kini telah memasuki Era Geoekonomi, di mana isu ekonomi, teknologi, keamanan, dan politik semakin saling berkaitan. Hal ini berarti setiap keputusan investasi dan perdagangan dapat membawa dampak strategis terhadap stabilitas dan keamanan ekonomi di kawasan.

“Mengingat pengaruh negara besar terhadap ketergantungan ekonomi menjadi sarana untuk mendapatkan keuntungan politik maupun ekonomi dari negara lain, maka respons ASEAN juga harus bersifat geoekonomi. Oleh karena itu, kemitraan ASEAN-Jepang yang berfokus pada perdagangan dan investasi juga harus berkembang. Fokusnya tidak hanya pada kemakmuran bersama yang berkelanjutan, tetapi juga mengarah pada ketahanan strategis,” imbuhnya.

Sebagai informasi, hubungan antara ASEAN dan Jepang telah terjalin sejak 1973 melalui dialog informal, yang kemudian berlanjut pada dialog formal pertama pada Maret 1977. Hingga kini, Jepang tetap menjadi salah satu mitra dialog terbesar bagi ASEAN.

Pada 2024, total perdagangan antara ASEAN dan Jepang tercatat mencapai 236,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Ekspor utama ASEAN ke Jepang meliputi gas bumi, sirkuit elektronik terintegrasi, serta batu bara. Sementara itu, impor utama ASEAN dari Jepang terdiri atas sirkuit elektronik terintegrasi, kendaraan bermotor beserta suku cadang dan aksesori, serta dioda dan transistor.

Selain itu, Jepang juga menempati posisi keempat sebagai mitra dagang terbesar dan menjadi sumber investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI) terbesar kelima bagi ASEAN. Pada tahun lalu, total aliran investasi dari Jepang ke kawasan ASEAN tercatat sebesar 17,5 miliar dolar AS.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *