in ,

INDEF Ungkap 12 Indikator Perlemahan Ekonomi Kuartal II-2025

FOTO : IST

Indef Ungkap 12 Indikator Perlemahan Ekonomi Kuartal II-2025

Pajak.com, Jakarta – Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 5,12 persen pada kuartal II-2025 menimbulkan pertanyaan serius dari kalangan ekonom. Salah satu pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Fadhil Hasan, mempertanyakan keabsahan metode dan basis data yang digunakan dalam perhitungan tersebut.

Fadhil menilai, angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi banyak pihak. “BPS kan mengumumkan 5,12 persen. Nah, sebelumnya itu even dari pemerintah sendiri, BI, dan Kemenkeu memperkirakan 4,7–5,1 persen, dan Bank Dunia 4,7–4,9 persen. Kemudian Indef dan CORE memperkirakan 4,8–4,95 persen. Nah konsensus ekonom, ada 30 ekonom memperkirakan PDB di kuartal II 4,70 persen, katakanlah 4,8 persen,” kata Fadhil dalam diskusi publik bertajuk Tanggapan atas Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II/2025, dikutip Pajak.com pada Kamis (7/8/25).

Fadhil menilai bahwa selisih angka pertumbuhan ekonomi yang diumumkan BPS dibanding proyeksi berbagai lembaga cukup signifikan, sehingga menimbulkan pertanyaan terkait kemungkinan perlunya perbaikan metodologi, penyempurnaan basis data, atau faktor lain yang belum dapat dipastikan penyebabnya.

“Sehingga selisihnya, apa yang diumumkan BPS cukup signifikan menimbulkan pertanyaan,” jelasnya.

Fadhil menekankan bahwa terdapat banyak indikator ekonomi yang justru menunjukkan tren pelemahan selama kuartal II-2025. Berikut 12 indikator utama yang menjadi sorotan:

  1. Penjualan kendaraan bermotor menurun: Penjualan grosir (wholesale) turun 8,6 persen, dan penjualan eceran turun 9,5 persen pada periode Januari–Juni 2025 dibanding periode sama 2024.
  2. PMI manufaktur dalam fase kontraksi: Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur berada di bawah 50 sepanjang kuartal II-2025: 46,7 pada April, 47,4 pada Mei, dan 46,9 pada Juni. Hal ini dinilai kontras dengan klaim pertumbuhan industri pengolahan yang naik dari 3,69 persen menjadi 5,68 persen.
  3. Konsumsi rumah tangga melemah: Lemahnya daya beli dan berkurangnya efek musiman turut menekan belanja masyarakat.
  4. Penurunan investasi asing langsung (FDI): Nilai FDI turun dari Rp217,3 triliun menjadi Rp202,2 triliun. Faktor penyebabnya antara lain ketegangan geopolitik global, kebijakan proteksionisme seperti tarif dari Amerika Serikat (AS) dan persaingan ketat dalam menarik modal asing.
  5. Inflasi meningkat: Inflasi Januari–Juni 2025 mencapai 1,38 persen, lebih tinggi dari 1,07 persen pada periode yang sama tahun 2024. Secara tahunan, inflasi mencapai 2,3 persen.
  6. Peningkatan pemutusan hubungan kerja (PHK): Jumlah PHK melonjak sebesar 32 persen pada semester I-2025 dibanding periode yang sama tahun lalu.
  7. Pertumbuhan kredit melambat: Kredit hanya tumbuh 7,7 persen selama Januari–Juni 2025 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024.
  8. Penurunan indeks keyakinan konsumen: Indeks keyakinan konsumen tercatat turun dari 121,1 pada Maret menjadi 117,8 pada Juni 2025.
  9. Menurunnya ekspektasi penghasilan konsumen: Meski indeks berada di zona optimisme, ekspektasi terhadap penghasilan ke depan menurun, dari 135,4 menjadi 133,2.
  10. Meningkatnya tekanan eksternal: Dampak dari tarif ekspor AS (Trump tariffs) serta pelemahan ekonomi global turut memberi tekanan terhadap perekonomian nasional.
  11. Arus modal keluar (capital outflow): Pasar keuangan Indonesia menjadi kurang menarik. Terjadi capital outflow dari pasar saham sebesar Rp59 triliun, SRBI Rp77,4 triliun, dan net buy Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp59 triliun.
  12. Penurunan penerimaan pajak dan tax ratio: Penerimaan PPN dan PPnBM pada semester I-2025 turun menjadi Rp267,3 triliun dari Rp332,9 triliun di semester I-2024, atau turun 19,7 persen. Penerimaan bruto tumbuh tipis 2,3 persen secara tahunan menjadi Rp1.087,8 triliun. Namun, penerimaan neto turun 7 persen menjadi Rp831,3 triliun. Tax ratio juga merosot dari 8,3 persen menjadi 7,1 persen.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *