Ekonom SMF Sebut Indonesia Siap Hadapi Guncangan Ekonomi Global dalam 5 Tahun ke Depan
Pajak.com, Solo – Kepala Divisi Riset Ekonomi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF Martin D. Siyaranamual menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berada dalam posisi yang cukup kuat untuk menghadapi gejolak global dalam empat hingga lima tahun ke depan.
Adapun, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2025 tercatat sebesar 5,04 persen. Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada periode tersebut mencapai Rp6.060,0 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan 2010 tercatat Rp3.444,8 triliun.
“Artinya gini, bicaranya adalah bahwa dari sektor pertumbuhan ekonomi Indonesia kita masih kuat, dari inflasi kita terjaga walaupun ada PR [pekerjaan rumah] di produk makanan, dari sisi pasar keuangan juga terjaga sebetulnya. Jadi stabilitas sektor keuangan masih bisa dipertahankan,” ujar Martin dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Senin (17/11/25).
Ia menambahkan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tetap lebih baik dibandingkan rata-rata pertumbuhan global.
Martin menjelaskan bahwa ketahanan Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari tren lebih luas bahwa negara-negara berkembang memiliki kemampuan menghadapi tekanan global yang lebih baik dibanding negara maju. “Karena memang mayoritas negara-negara berkembang punya kapasitas, punya kemampuan dan ketangguhan untuk menghadapi gejolak di 4 hingga 5 tahun ke depan nanti. Kira-kira seperti itu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa koordinasi kebijakan antara otoritas moneter dan otoritas fiskal kini semakin solid. Martin menyampaikan bahwa kolaborasi keduanya begitu erat hingga menurutnya batas tanggung jawab masing-masing otoritas terkadang terlihat kabur karena koordinasi yang berjalan sangat baik.
Lebih lanjut, Martin menjelaskan bahwa kondisi global masih belum menunjukkan pemulihan yang berarti. Ia menyampaikan bahwa ekspektasi pertumbuhan ekonomi global masih relatif lemah, namun negara-negara berkembang dinilai memiliki prospek lebih cerah dibandingkan negara maju karena negara maju masih terdampak oleh konsekuensi pandemi COVID-19.
“Kalau bicara soal kondisi makroekonomi Indonesia, di triwulan ketiga 2025 ini, kita tumbuh sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan kedua, itu hanya sekitar 5,04 persen,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa tren pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen bukan merupakan hal baru. Menurutnya, tingkat pertumbuhan tersebut mencerminkan bahwa perekonomian Indonesia relatif tidak banyak berubah, bukan hanya pada era pemerintahan saat ini atau periode sebelumnya, tetapi juga merupakan pola yang sudah berlangsung jauh sebelum pandemi COVID-19.
Namun demikian, Martin menilai bahwa pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen masih belum memadai untuk mendorong Indonesia naik kelas menjadi negara maju. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan lagi pada keberlanjutan angka 5 persen tersebut, melainkan apakah capaian itu cukup untuk membawa Indonesia menuju status negara maju. Menurutnya, Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang lebih tinggi untuk mencapai target tersebut.
“Nah untuk bicara soal pertumbuhan ekonomi di kuartal kedua dan kuartal ketiga ini, pada dasarnya masih sama. Bahwa investasi dan kalau investasi dalam bahasa statistik yang ada di BPS [Badan Pusat Statistik] itu adalah membutuhkan modal beruntung tetap dan juga perdagangan internasional, ekspor-import itu menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia,” paparnya.
Martin menekankan bahwa sektor manufaktur memiliki peran strategis karena menjadi salah satu penyumbang utama pekerjaan layak, yang berdampak luas terhadap kualitas pertumbuhan dan inklusivitas ekonomi. Ia menyampaikan bahwa sektor ini kini menghadapi tantangan lantaran pertumbuhannya mengalami sedikit perlambatan pada kuartal III.
Meski terdapat sejumlah tantangan, Martin memastikan fondasi ekonomi nasional tetap kuat menghadapi ketidakpastian global. “Jadi itu yang terjadi. Tapi secara umum, perekonomian Indonesia berjalan dengan tangguh,” pungkasnya.

Comments