in ,

Bank Indonesia Ramal Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1 hingga 5,9 Persen pada 2027

Bank Indonesia Ramal Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1 hingga 5,9 Persen pada 2027

Pajak.com, Jakarta – Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus menguat hingga mencapai kisaran 5,1 hingga 5,9 persen pada 2027. Menurut BI, proyeksi ini sejalan dengan tren pemulihan yang semakin solid sepanjang 2025 dan keyakinan bahwa momentum positif akan berlanjut dalam dua tahun berikutnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kinerja ekonomi pada 2025 menunjukkan hasil lebih baik dari perkiraan awal. Pada kuartal II dan III 2025, pertumbuhan ekonomi tercatat masing-masing sebesar 5,12 persen year-on-year (yoy) dan 5,04 persen (yoy), naik dari 4,87 persen (yoy) pada kuartal I 2025.

Kinerja ekspor nonmigas juga mengalami peningkatan, terutama didorong oleh front-loading ekspor ke Amerika Serikat (AS) sebagai langkah antisipatif terhadap kebijakan tarif negara tersebut. Selain itu, ekspor produk pertanian dan manufaktur menguat, khususnya komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) ke India setelah negara tersebut menurunkan bea impor.

Tidak hanya dari sisi ekspor, permintaan domestik ikut menopang pertumbuhan, terutama investasi swasta dan realisasi program-program prioritas pemerintah seperti pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di berbagai daerah. Konsumsi rumah tangga pun tetap tumbuh positif seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, meskipun Perry menilai penguatan konsumsi perlu terus dijaga di tengah menurunnya ekspektasi konsumen berpendapatan menengah ke bawah dan terbatasnya lapangan kerja.

“Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 akan berada di kisaran 4,7-5,5 persen dan akan meningkat lebih tinggi pada 2026 dan 2027 masing-masing dalam kisaran 4,9-5,7 persen dan 5,1-5,9 persen,” ujar Perry dalam acara PTBI, dikutip Pajak.com pada Senin (1/12/25).

Ke depan, BI menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan bank sentral melalui bauran kebijakan ekonomi nasional agar pertumbuhan dapat terus didorong dari sisi permintaan (demand) maupun penawaran (supply) dengan tetap menjaga stabilitas.

Dari sisi fiskal, Perry menilai percepatan realisasi belanja pemerintah sesuai APBN menjadi kunci untuk memperkuat permintaan domestik. Program-program sosial seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, Perumahan Rakyat, dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta proyek prioritas ketahanan pangan, energi, pertahanan-keamanan, dan Paket Kebijakan Ekonomi Pemerintah 2025 perlu dipacu agar dampak ekonominya segera dirasakan.

Sementara dari sisi penawaran, ia menekankan percepatan hilirisasi sumber daya alam serta reformasi struktural untuk mendorong sektor-sektor ekonomi yang memiliki potensi pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja tinggi.

BI, di sisi lain, terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Langkah-langkah yang ditempuh meliputi penurunan suku bunga, pelonggaran likuiditas, peningkatan insentif makroprudensial, hingga percepatan digitalisasi ekonomi-keuangan sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan yang lebih kuat.

BAGAIMANA MENURUT ANDA ?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *