Menu
in ,

Antusiasme “Startup” Lakukan Investasi Berdampak Sosial

Antusiasme "Startup" Lakukan Investasi Berdampak Sosial

FOTO: IST

Pajak.comJakarta – Asosiasi Modal Ventura untuk Startup Indonesia (AMVESINDO) mencatat, investasi berdampak sosial atau impact investment di Indonesia mengalami perkembangan pesat dalam lima tahun terakhir. Sekretaris Jenderal AMVESINDO Eddi Danusaputro menyebut, jumlah partisipasi investor konvensional pada investasi berdampak tumbuh hingga 190 persen sejak tahun 2013.

Ia mengungkapkan, tingginya potensi investasi ini didukung dengan besarnya jumlah penduduk, latar belakang sosio-ekonomi yang beragam, serta tantangan sosial yang berbeda di setiap daerah. Sebagai informasi, investasi berdampak bertujuan menghasilkan keuntungan sekaligus mengatasi masalah sosial dan lingkungan pada masyarakat.

Jika ditelusuri pangkalnya, konsep investasi ini tidak lepas dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dari 17 SDGs itu, Indonesia berfokus setidaknya pada 5 poin, yakni pengentasan kemiskinan, literasi keuangan, akses layanan dan fasilitas kesehatan yang terjangkau, pemerataan akses pendidikan, dan pemenuhan kota yang aman dan nyaman.

Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia ini mengemukakan, untuk mendukung pertumbuhan investasi berdampak sosial di Indonesia, AMVESINDO senantiasa aktif menyuarakan konsep investasi ini di kalangan investor—khususnya kepada lebih dari tujuh puluh perusahaan modal ventura anggota AMVESINDO.

“Selain itu, kami berperan sebagai mediator antara pelaku industri dan regulator untuk menyampaikan usulan dan concern mengenai kebijakan pemerintah, serta menjadi penghubung antarsesama pelaku industri untuk memfasilitasi dialog dan kerja sama,” jelas Eddi melalui keterangan resmi yang diterima Pajak.com, Selasa (27/7).

Ia mengatakan, beberapa contoh perusahaan rintisan (startup) yang berupaya menawarkan solusi untuk masalah tersebut antara lain fintech yang bergerak di bidang penyaluran modal untuk UMKM, layanan pemeriksaan kesehatan berbasis teknologi, dan platform belajar-mengajar daring.

Di sisi lain, Bendahara AMVESINDO Edward Ismawan Chamdani menjelaskan, sejatinya semua startup baik di bisnis social entrepreneurship dan bisnis komersial pada umumnya lahir untuk menyelesaikan masalah di masyarakat. Yang membedakan adalah adanya tujuan dari investor agar modal yang disuntikkan dapat menciptakan dampak yang terukur di masyarakat.

“AMVESINDO menyorot salah satu tantangan besar dalam investasi berdampak yaitu masih rendahnya pemahaman dan penerapan metode pengukuran dampak investasi yang pakem, serta framework dan regulasi dari pemerintah yang lebih terperinci. Untuk itu kami aktif melakukan audiensi dan diskusi bersama para anggota, untuk membicarakan kendala yang dihadapi bersama dan menyusun rekomendasi untuk perumusan regulasi yang akan diatur pemerintah. Apalagi, melihat semakin tahun antusiasme terhadap startup berdampak sosial itu semakin besar,” jelas Co-Founder & Managing Partner Ideosource VC & Gayo Capital ini.

Tantangan lainnya, lanjut Edward, adalah masih terbatasnya laporan dan studi kasus yang mengungkapkan realisasi return dan potensi risiko investasi yang biasanya dibuat oleh perusahaan atau investor.

“Karena terbatasnya data tersebut, akhirnya masih terbatas pula benchmark bagi investor untuk menilai skalabilitas investasi berdampak, sehingga anggapan bahwa investasi ini terlalu rumit dan berisiko tinggi masih beredar,” imbuhnya.

Maka dari itu, ia meminta agar startup yang fokus pada bisnis dampak sosial wajib memberikan laporan-laporan atau portofolio memutakhirkan dampak sosial atau lingkungan yang sudah dikelola.

“Untuk mendukung portofolio perusahaan, diperlukan kalkulasi impact metric yang diakui secara global seperti IRIS, agar data yang dihasilkan menunjang dan akurat. Hasil dari impact metric ini juga yang akan memengaruhi keabsahan bisnis serta meyakinkan para investor untuk menanamkan modal pada bisnis yang bersangkutan,” terangnya.

Ia pun mengatakan, bisnis social impact pada tahap awal sebaiknya fokus dengan pengukuran hasil dan dampak dari kegiatan operasional bisnis jangka pendek. Seiring bisnis semakin berkembang, saatnya startup mulai fokus dengan pelanggan. Di fase ini, menurut Edward, startup perlu konsisten menjaga dan meningkatkan kualitas produk agar bisa menggaet pasar lebih luas.

“Dengan sendirinya, apabila model bisnis dan produk sudah terbukti punya posisi di pasar, maka dampak sosial juga akan meningkat untuk jangka panjang. Saat ini sudah banyak perusahaan modal ventura serta venture capital yang fokus menggarap investasi berdampak di Indonesia seperti Gayo Capital, Patamar Capital, dan East Venture. Ditambah lagi sederet investor arus utama yang sudah terjun juga, seperti Mandiri Capital dan BRI Venture yang juga merupakan anggota dari AMVESINDO,” urainya.

Ia pun mengatakan, pandemi Covid-19 membuktikan peran investor semakin dibutuhkan untuk mendukung bisnis berdampak, karena dapat mempercepat penyelesaian berbagai tantangan sosial di masyarakat. Misalnya, masalah pengentasan kemiskinan dan kesetaraan gender yang bisa diselesaikan lewat akses permodalan dan lapangan pekerjaan bagi perempuan-perempuan di berbagai daerah.

“Di negara berkembang seperti Indonesia, 70 persen jumlah lapangan kerja merupakan ekstensifikasi dari sektor UMKM. Sehingga, bisnis berdampak sosial yang dapat menjadi akselerator bagi sektor tersebut perlu didukung seluruh stakeholder, agar memberikan efek domino tidak hanya bagi para masyarakat dan investor tetapi juga menggenjot perekonomian nasional,” tutupnya.

Leave a Reply