Dorong Hilirisasi, Freeport Indonesia Teken Kerja Sama Pasok Perak dan Timbal untuk Industri Elektronik
Pajak.com, Batam – PT Freeport Indonesia (PTFI) resmi menandatangani kesepakatan awal jual beli (Heads of Agreement/HoA) perak dan timbal hasil pemurnian dengan PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania), perusahaan manufaktur solder berbasis timah di Batam. Kesepakatan ini menjadi tonggak penting dalam mendorong hilirisasi industri pertambangan di dalam negeri.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengungkapkan, PTFI akan memasok sekitar 10 ton perak dan 250 ton timbal per tahun ke Stania. Logam-logam ini merupakan hasil produksi fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) milik PTFI yang berlokasi di Gresik, Jawa Timur.
“PTFI memproduksi perak dan by product lainnya seperti timbal dari proses pemurnian. Itu yang akan kami suplai ke Stania untuk digunakan sebagai campuran dalam produksi solder tin,” kata Tony dalam acara penandatanganan tersebut di kompleks pabrik Stania, Batam, Kepulauan Riau, dikutip Pajak.com, Kamis (17/7/2025).
Ia menekankan bahwa permintaan logam hasil pemurnian dari dalam negeri sangat dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem hilirisasi. Menurutnya, kehadiran industri seperti Stania menjadi bukti bahwa produk hasil pemurnian PTFI telah mulai diserap oleh sektor manufaktur nasional. Tony berharap, ke depan akan lebih banyak industri dalam negeri yang memanfaatkan logam-logam hasil pemurnian.
“Bukan hanya PT Stania saja, namun kami juga berharap ada yang lainnya yang membutuhkan logam-logam hasil pemurnian kita untuk dikonsumsi dalam negeri sehingga ekosistem hilirisasi yang berkaitan dengan produk lanjutan dan juga ekosistem kendaraan listrik (EV) bisa cepat tercapai sesuai dengan harapan pemerintah,” jelas Tony.
Saat ini, PMR PTFI memiliki kapasitas pemurnian sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun. Fasilitas ini juga memproduksi logam-logam mulia lain seperti platinum dan paladium. Per Juli 2025, PMR telah mulai memproduksi perak batangan, dan PTFI menargetkan produksi mencapai 100 ton perak dan 2.000 ton timbal hingga akhir tahun.
Tony menyebut, penandatanganan HoA ini sekaligus menjadi bentuk komitmen PTFI dalam memperkuat rantai pasok domestik, dan keberadaan mitra industri seperti Stania diyakininya akan mendukung pencapaian nilai tambah lebih besar dari kekayaan mineral Indonesia. Senada dengan Tony, Direktur Stania An Sudarno menyebut sinergi antara Stania dan Freeport Indonesia merupakan langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian industri logam Indonesia, khususnya dalam sektor hilirisasi perak dan timbal.
“Perak dan timbal diperlukan sebagai paduan untuk memproduksi solder tin. Kebutuhan Stania untuk timbal saat ini sebanyak 250 ton per tahun. Sementara pada titik awal ini kebutuhan akan perak 10 ton per tahun,” ujar Sudarno.
Menurutnya, langkah ini juga sejalan dengan arahan pemerintah dalam mendorong pemanfaatan sumber daya alam untuk kebutuhan industri dalam negeri. “Sinergi penyerapan perak dan timbal dari PTFI ini merupakan komitmen Stania dalam memperkuat bisnis. Selain itu, dengan penguatan pengadaan bahan baku domestik, perusahaan tidak bergantung terhadap impor,” paparnya.
Dalam HoA yang ditandatangani, kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan ke tahap negosiasi Perjanjian Definitif yang mencakup kajian teknis dan komersial lebih lanjut. Adapun kesepakatan ini bertepatan dengan peresmian pabrik Stania di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam. Pabrik ini merupakan anak usaha dari PT Arsari Tambang yang juga dimiliki oleh Aryo Djojohadikusumo.
Fasilitas seluas 6.500 meter persegi tersebut mulai dibangun pada 10 Mei 2024 dan saat ini memiliki kapasitas produksi awal sebesar 2.000 ton batang solder per tahun. Perusahaan ini menargetkan ekspansi hingga 16.000 ton per tahun, mencakup produk solder dalam bentuk batang, kawat, bubuk, dan pasta.
Tak hanya soal kapasitas, Stania mengusung pendekatan ramah lingkungan dalam proses produksinya, sejalan dengan tren global industri hijau. Perusahaan ini memproyeksikan pendapatan tahunan dari lini produksi ini mencapai Rp1,2 triliun dalam beberapa tahun ke depan.

