Realisasi Investasi Semester I-2025 Tembus Rp942,9 Triliun, Naik 13 Persen
Pajak.com, Jakarta – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi selama semester I-2025 mencapai Rp942,9 triliun. Angka ini setara dengan 49,5 persen dari target investasi nasional tahun 2025 yang ditetapkan sebesar Rp1.905,6 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, capaian tersebut meningkat sebesar 13,6 persen secara tahunan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menekankan bahwa pencapaian tersebut juga memberikan dampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja di dalam negeri. Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, investasi yang masuk telah menyerap tenaga kerja sebanyak 1.259.868 orang.
“Capaian yang sudah tercapai ini dari target Rp1.905,6 triliun dan kembali lagi yang paling penting yang saya highlight adalah penyerapan tenaga kerjanya, ini tepatnya 1.259.868 orang,” ujar Rosan, dikutip Pajak.com pada Rabu (30/7/25).
Secara proporsi, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mendominasi dengan kontribusi Rp510,3 triliun atau 54,1 persen. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencatatkan nilai Rp432,6 triliun atau 45,9 persen.
Jika dilihat dari persebaran wilayah, kontribusi investasi antara Jawa dan luar Jawa cukup berimbang. Investasi di luar Jawa mencapai Rp476 triliun atau 50,5 persen, sedangkan Jawa menyumbang Rp466,9 triliun atau 49,5 persen.
Rosan juga menyoroti provinsi dengan realisasi investasi tertinggi sepanjang semester I-2025. Jawa Barat menjadi yang tertinggi dengan nilai investasi Rp141 triliun atau setara 15 persen dari total nasional, diikuti sangat dekat oleh DKI Jakarta sebesar Rp140,8 triliun atau 14,9 persen.
Jawa Timur menyusul di posisi ketiga dengan Rp74,7 triliun (7,9 persen), lalu Sulawesi Tengah Rp64,2 triliun (6,8 persen), dan Banten Rp60,7 triliun (6,4 persen).
“Kalau kita lihat 6 bulan terakhir kelihatannya Jawa Barat menjadi FDI nomor satu walaupun dengan DKI bedanya kurang lebih hanya Rp1 triliun, karena 15 persen dan 14,9 persen. Tapi kita kan mencatatnya sesuai dengan laporan dan verifikasi yang ada,” jelas Rosan.
Untuk PMA, lima daerah penyumbang terbesar mencakup Jawa Barat dan Sulawesi Tengah masing-masing dengan nilai investasi sebesar 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan 3,7 miliar dolar AS. Kemudian diikuti oleh DKI Jakarta (3,2 miliar dolar AS), Maluku Utara (2,5 miliar dolar AS), dan Jawa Tengah (1,6 miliar dolar AS).
Sedangkan pada kategori PMDN, DKI Jakarta menjadi yang tertinggi dengan Rp90,4 triliun atau 17,7 persen, diikuti oleh Jawa Barat sebesar Rp77,5 triliun (15,2 persen), Jawa Timur Rp51 triliun (10 persen), Banten Rp35,3 triliun (6,9 persen), dan Kalimantan Timur Rp32,4 triliun (6,4 persen).

