Airlangga Sebut Presiden Prabowo Bakal Jaga Rasio Utang di Level 40 Persen, Defisit 3 Persen
Pajak.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menjaga rasio utang di level 40 persen dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di kisaran 3 persen hingga akhir tahun 2026.
Airlangga menjelaskan bahwa komitmen tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas fiskal di tengah dinamika global. Ia menegaskan bahwa meskipun undang-undang memberikan ruang rasio utang hingga 60 persen, pemerintah memilih untuk tetap menjaga pada level yang lebih konservatif.
“Bapak presiden tadi komit bahwa rasio utang dijaga di level 40 persen walaupun undang-undang menyiapkan sampai 60 persen demikian pula juga budget defisit dijaga di level 3 persen dan juga ini akan dijaga sampai dengan akhir tahun,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Kamis (9/4/2926).
Menurut Airlangga, selain menjaga disiplin fiskal, pemerintah menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tetap positif. Hal ini didukung oleh sejumlah indikator domestik yang menunjukkan tren penguatan, seperti indeks keyakinan konsumen, kondisi neraca, serta stabilitas sektor keuangan seperti cadangan devisa yang terjaga di 151,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
“Maka, pemerintah masih melihat pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama masih baik masih bisa mencapai tadi menteri keuangan juga menyampaikan lebih besar sama dengan 5,5 persen jadi itu yang dicapai,” jelasnya.
Dari segi keuangan, pemerintah terus berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) melalui kebijakan triple intervention di pasar spot domestik dan non-delivery forward untuk menjaga stabilitas nilai rupiah, dengan BI Rate tetap berada di level 4,75.
Selain itu, Airlangga menyampaikan bahwa Prabowo juga mengarahkan agar kerja sama bilateral currency swap dilanjutkan dengan sejumlah negara, seperti Tiongkok, Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, dan Korea Selatan, serta didorong untuk diperluas ke negara lainnya ke depan.
Terkait perkembangan harga komoditas global akibat pertempuran di Timur Tengah, khususnya minyak mentah, Airlangga menjelaskan bahwa terdapat potensi jeda selama dua minggu seiring adanya penundaan serangan oleh AS. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan harga crude oil, di mana West Texas Intermediate (WTI) turun menjadi 96,7 dolar AS per barel dan Brent crude menjadi 95,23 dolar AS per barel.
Selain itu, Airlangga menilai kondisi perekonomian Indonesia secara umum masih berada dalam kategori baik. Ia menyampaikan bahwa di antara negara anggota G20, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,39 persen pada kuartal IV-2025 menempati posisi kedua, hanya berada di bawah India yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,40 persen pada periode yang sama.

