Menu
in ,

Airlangga Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen pada Kuartal I-2026

Airlangga Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen pada Kuartal I-2026

Pajak.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 5,5 persen pada kuartal I-2026, seiring dengan berbagai indikator ekonomi yang menunjukkan kinerja positif di awal tahun.

Airlangga menyampaikan bahwa secara umum kondisi perekonomian Indonesia masih berada dalam tren yang baik, bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara G20. Ia menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kompetitif di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

“Tadi disampaikan secara nasional kondisi perekonomian kita baik, dan perekonomian kita di antara negara G20 kita hanya lebih rendah dari India dengan pertumbuhan di kuartal IV-2025 ke 5,39 persen,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Kamis (9/4/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga menyebutkan bahwa optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 juga didukung oleh berbagai indikator domestik yang menunjukkan penguatan. Menurutnya, indeks keyakinan konsumen, stabilitas sektor keuangan, serta kondisi fiskal yang terjaga menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan.

Dari sisi fiskal, kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga menunjukkan peran signifikan, didukung penerimaan pajak hingga akhir kuartal pertama 2026 yang meningkat 14,3 persen atau Rp462,7 triliun, dan PMI Manufaktur pada Maret 2026 itu ekspansif dengan angka 50,1.

Menurut Airlangga pertumbuhan ekonomi Indonesia juga masih memperlihatkan resiliensi pada kuartal I-2026, baik itu dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) di angka 125, 2 atau berada di level optimis, lalu juga cadangan devisa terjaga di 151,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara 6 bulan impor.

“Maka, pemerintah masih melihat pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama juga masih baik, masih bisa mencapai atau lebih besar sama dengan 5,5 persen,” ujar Airlangga.

Dari segi keuangan, pemerintah terus koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) dengan melakukan triple intervention di pasar spot domestik non-delivery forward untuk menstabilkan nilai rupiah, BI Rate terjaga di 4,75.

“Bapak presiden juga mengarahkan bilateral currency swap untuk dilanjutkan dengan beberapa negara. Sekarang Tiongkok, Jepang, Australia, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, dan ke depan beberapa negara juga perlu didorong,” ujarnya.

Selain itu, Airlangga menilai bahwa ketahanan sektor pangan berada dalam kondisi yang cukup baik. Ia menyebutkan bahwa produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,7 juta ton dan stok Bulog sebesar 4,6 juta ton.

Kebijakan terkait energi dan transportasi yang juga dilakukan salah satunya adalah penyesuaian harga avtur dengan penerapan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) 11 persen selama dua bulan, yang menyebabkan kenaikan harga tiket pesawat domestik bisa ditahan pada level 9 persen hingga 14 persen.

“Untuk dampak kepada ongkos haji, seperti kita ketahui bahwa ongkos haji telah diturunkan Rp2 juta, kemudian dampak kenaikan avtur ini di-absorb oleh pemerintah, jadi tidak ada kenaikan biaya haji. Ini di-absorb untuk sekitar 220 ribu jemaah haji, dan angkanya anggaran Rp1,77 triliun dibebankan kepada APBN. Dengan demikian, tidak ada dampak bagi para jemaah haji,” pungkas Airlangga.

Leave a Reply

Exit mobile version