Menu
in ,

Menkeu Purbaya: Saya Disuruh Presiden Belajar Sama Dirjen Pajak dan Percepat Pertumbuhan Ekonomi 

Foto: Aprilia Hariani

Menkeu Purbaya: Saya Disuruh Presiden Belajar Sama Dirjen Pajak dan Percepat Pertumbuhan Ekonomi 

Pajak.com, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan (Menkeu), menggantikan (reshuffle) Sri Mulyani Indrawati, di Istana Negara Jakarta (8/9/25). Setelah pelantikan, Purbaya mengungkapkan bahwa Prabowo mengarahkannya untuk belajar dengan Dirjen Pajak Bimo Wijayanto terkait langkah kebijakan optimalisasi penerimaan pajak. Selain itu, Prabowo juga ingin Purbaya mempercepat pertumbuhan ekonomi.

“Saya disuruh presiden belajar sama dirjen pajak. Kalau Anda lihat, biasanya yang konstan? Tax ratio kan konstan, tax ratio terhadap PDB [produk domestik bruto]. Let’s say kita enggak bisa dalam waktu dekat untuk meningkatkan tax [ratio], ya kita percepat pertumbuhan ekonominya. Kira-kira begitu,” ungkap Purbaya kepada awak media, dikutip Pajak.com (9/9/25).

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data kementerian keuangan, rasio pajak Indonesia mengalami stagnasi di lima tahun kebelakang, yakni sebesar 8,33 persen terhadap PDB (pada 2020), 9,13 persen (2021), 10,41 persen (2022), 10,31 persen (2023), dan 10,07 persen (2024). Di sisi lain, dalam periode itu pertumbuhan ekonomi mengalami tren peningkatan, yakni -2,97 persen (2020), 3,69 persen (2021), 5,3 persen (2022), 5,06 persen (2023), dan 5,03 persen (2024).

Dengan demikian, Purbaya menyampaikan bahwa langkah awal yang akan ditempuhnya adalah memetakan potensi optimalisasi kebijakan fiskal yang telah berjalan. Purbaya ingin melihat secara komprehensif dan detail mengenai berbagai instrumen keuangan yang masih bisa dioptimalkan maksimalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, ia mengatakan bahwa kondisi perlambatan ekonomi sudah teridentifikasi, sehingga dapat segera ditangani.

“Sekarang ekonomi agak melambat. Kita sudah pelajari kelemahannya, ke depan akan kita perbaiki. Pesan presiden adalah balik arah ekonomi, ciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, secepat mungkin. Itu yang akan kita kerjakan ke depan,” tandas Purbaya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 tercatat sebesar 4,99 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan semester I-2024 yang tumbuh di angka 5,08 persen.

Penurunan pertumbuhan ekonomi nasional terjadi karena melemahnya daya beli masyarakat sebagai buntut dari pemutusan hubungan kerja (PHK), efisiensi pemerintah, belanja pemerintah yang belum optimal, perlambatan investasi yang disebabkan ketidakpastian global, peningkatan suku bunga, imbas perang tarif dan tekanan geopolitik global.

 

Leave a Reply

Exit mobile version