Menu
in ,

India Pangkas Pajak Ratusan Barang Konsumsi untuk Genjot Permintaan Domestik

FOTO : IST

India Pangkas Pajak Ratusan Barang Konsumsi untuk Genjot Permintaan Domestik

Pajak.com, New Delhi – Pemerintah India resmi mengumumkan pemotongan pajak barang dan jasa (GST) atas ratusan barang konsumsi, mulai dari sabun hingga mobil kecil. Kebijakan ini dilakukan untuk mendorong permintaan domestik di tengah tekanan ekonomi akibat tarif tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat (AS).

Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman menjelaskan bahwa panel GST telah menyetujui pemangkasan pajak pada barang-barang kebutuhan sehari-hari serta penyederhanaan struktur tarifnya. Panel ini dipimpin langsung oleh Sitharaman dan diikuti menteri dari seluruh negara bagian.

“Panel menyetujui pemotongan pajak barang konsumsi seperti pasta gigi dan sampo menjadi 5 persen dari 18 persen, serta mobil kecil, AC, dan televisi menjadi 18 persen dari 28 persen,” ungkap Sitharaman dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Jumat (5/9/25).

Ia menambahkan, GST juga akan dihapuskan sepenuhnya untuk semua polis asuransi jiwa individu dan asuransi kesehatan. Langkah ini diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap produk asuransi dengan biaya yang lebih terjangkau.

Sebelumnya, struktur GST dikritik karena dianggap terlalu rumit dengan empat kategori tarif. Kini, panel sepakat untuk menyederhanakan menjadi hanya dua lapis, yaitu 5 persen dan 18 persen.

Meski kebijakan ini berpotensi mengurangi penerimaan negara, Pemerintah India optimistis dampaknya terhadap perekonomian akan positif. Pemerintah pusat dan negara bagian diperkirakan kehilangan pendapatan sebesar 480 miliar rupee India atau sekitar 5,49 miliar dolar AS. Namun, pemotongan pajak ini akan mulai berlaku pada 22 September 2025, bertepatan dengan hari pertama festival Hindu Navratri.

Di sisi lain, kepala ekonom di State Bank of India (SBI) Soumya Kanti Ghosh menegaskan bahwa manfaat dari meningkatnya konsumsi akan menetralkan potensi kehilangan pendapatan. “Dorongan konsumsi sebagai hasil dari rasionalisasi tarif GST akan lebih dari cukup untuk menetralkan dampak pendapatan yang mungkin hilang. Dampaknya terhadap defisit fiskal hampir tidak signifikan, bahkan bisa positif,” jelasnya.

Pertumbuhan ekonomi India sendiri menunjukkan tren menguat. Pada kuartal yang berakhir Juni, ekonomi negeri Bollywood tersebut tumbuh 7,8 persen, melampaui perkiraan para analis.

Barang Super Mewah Tetap Kena Pajak Tinggi

Meski ada pemangkasan besar-besaran, panel tetap menetapkan tarif tinggi sebesar 40 persen untuk barang-barang yang dikategorikan “super mewah” dan “dosa”. Barang yang termasuk di antaranya adalah rokok, mobil dengan kapasitas mesin di atas 1.500 cc, serta minuman berkarbonasi.

Dengan struktur baru ini, perusahaan barang konsumsi cepat saji seperti Hindustan Unilever dan Godrej Industries, perusahaan elektronik seperti Samsung, LG, serta Sony, hingga produsen otomotif seperti Maruti, Toyota, dan Suzuki diperkirakan akan menjadi pihak yang paling diuntungkan.

Senada dengan Nirmala, Perdana Menteri India Narendra Modi menegaskan bahwa pemangkasan pajak ini merupakan bagian dari reformasi besar untuk menjadikan India lebih mandiri, sekaligus melawan tekanan eksternal, khususnya tarif tinggi dari AS yang mencapai 50 persen.

“Reformasi yang luas ini akan meningkatkan kualitas hidup warga negara kita dan memastikan kemudahan berbisnis bagi semua pihak, terutama pedagang kecil dan pelaku usaha,” tegas Modi setelah pengumuman pemotongan pajak tersebut.

Leave a Reply

Exit mobile version