Menu
in ,

Kemajuan Negara Dimulai dari Kemajuan Teknologi

Kemajuan Negara Dimulai dari Kemajuan Teknologi

Sejarah mencatat kemajuan suatu bangsa dimulai dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Revolusi Industri di Eropa berawal di Inggris pada abad ke-18, ditandai dengan penemuan mesin uap sebagai sumber tenaga untuk kemajuan industri, mesin tenun yang mempercepat proses produksi tekstil, serta kereta api yang mempermudah transportasi barang dan mobilitas manusia.

Sepanjang abad ke-19, Inggris, Prancis, dan Jerman berada di garis depan dalam melahirkan ide-ide baru di bidang sains dan matematika. Meskipun tertinggal dalam perumusan teori, Amerika Serikat (AS) unggul dalam menerapkan teori untuk memecahkan masalah, yang kemudian dikenal sebagai sains terapan. 

Tradisi ini lahir dari kebutuhan. Karena tinggal jauh dari pusat sains dan manufaktur Barat, orang AS sering kali harus menemukan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan berbagai persoalan. Hasilnya adalah sejumlah penemuan penting, seperti kapal uap, telegraf, serta berbagai inovasi Thomas Alva Edison yang memberikan dampak besar pada dunia industri modern.

Selanjutnya, dunia dibuat terperangah oleh kemajuan pesat Republik Rakyat Cina (RRC) atau Tiongkok, yang kini merajai produksi panel surya, baterai lithium untuk mobil listrik, dan berbagai produk berbasis teknologi lainnya. Padahal sebelumnya, label “Made in China” selalu dipandang sebelah mata. Kemajuan tersebut bukanlah hasil instan, melainkan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, yang dimulai sejak reformasi ekonomi pada tahun 1978.

Walapun industrialisasi di Tiongkok dimulai dengan pembukaan pabrik, akan tetapi Pemerintah Tiongkok tidak berpuas diri dengan menjadikan negaranya sebagai dapur bagi produk-produk asing. Sembari memasak, mereka mendorong agar rakyatnya mampu membuat masakan dengan merk sendiri. Sistem pendidikan pun diarahkan untuk melahirkan tenaga ahli ilmu terapan yang mampu meramu teknologi dan inovasi secara mandiri, tanpa harus bergantung pada merek maupun lisensi luar negeri.

Tiongkok tidak mau kalah dengan bangsa-bangsa Eropa maupun AS, bahkan dengan tetangganya sendiri seperti Jepang dan Korea Selatan. Mereka bukanlah seperti bangsa-bangsa di Timur Tengah yang kaya akan sumber daya alam. Yang mereka miliki adalah sumber daya manusia yang melimpah, yang dapat dijadikan faktor produksi atau pun pasar itu sendiri. 

Hasilnya, Tiongkok kini menjadi negara eksportir terbesar di dunia, dengan kontribusi sekitar 15 persen terhadap ekspor barang dagangan global dan 6 persen terhadap ekspor jasa global, sehingga menjadi tantangan tersendiri bagi negara-negara lain.

Kemajuan ekonomi sebuah negara biasanya dimulai dengan kesiapan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesiapan ini perlu ditopang oleh investasi pemerintah, baik melalui peningkatan kualitas pendidikan dalam negeri maupun pemberian beasiswa bagi warganya jika sistem pendidikan nasional belum memadai. 

Selain itu, dukungan juga diperlukan dalam bentuk pendanaan riset serta pembiayaan bagi usaha rintisan (start-up), agar para ilmuwan dapat menemukan dan menerapkan teknologi yang mampu mendorong reformasi ekonomi berbasis industrialisasi berteknologi tinggi.

Belajar dari kemajuan industrialisasi berbagai negara sepanjang zaman, sudah saatnya Indonesia melakukan revolusi industrinya sendiri. Selama ini, industri di Indonesia masih didominasi oleh sistem berbasis lisensi, perakitan, atau maklon bagi industri internasional.

Adapun langkah-langkah reformasi industrialisasi yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

  1. Reformasi pendidikan. Khususnya pendidikan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi terapan yang disesuaikan dengan kebutuhan industrialisasi yang akan dikembangkan;
  2. Selama reformasi pendidikan berlangsung, diperlukan beasiswa bagi talenta-talenta terbaik Indonesia untuk menempuh pendidikan di luar negeri, karena reformasi pendidikan memerlukan waktu yang cukup lama. Beasiswa juga perlu diberikan kepada tenaga pengajar agar dapat meningkatkan kualitas pengajarannya;
  3. Meningkatkan dan mendorong investasi pemerintah maupun swasta di bidang riset dan teknologi;
  4. Mendukung ketersediaan modal bagi bisnis start-up yang berbasis teknologi;
  5. Membuat suatu zona ekonomi khusus bagi perusahaan-perusahaan berbasis teknologi;
  6. Perbaiki dan kuasai jalur perdagangan dengan memperkuat perusahaan pelayaran dan pergudangan, serta mengoptimalkan pelabuhan-pelabuhan strategis, seperti Pelabuhan Batam di Selat Malaka dan Pelabuhan Kijing di Mempawah;
  7. Kerja sama pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung investasi bidang riset dan teknologi, serta zona ekonomi khusus;
  8. Fasilitas pajak dan kemudahan perizinan yang memadai khususnya bagi industri yang produknya benar-benar asli Indonesia; 
  9. Tingkatkan rasa nasionalisme rakyat Indonesia dengan menumbuhkan kebanggaan terhadap produk-produk asli Indonesia. Tujuannya bukan untuk menolak produk asing, melainkan meningkatkan kesadaran agar masyarakat lebih memilih produk dalam negeri yang sesuai dengan cita rasa Indonesia; dan
  10. Reformasi industrialisasi difokuskan pada pengembangan produk-produk khas Indonesia, misalnya: a. Industri kelapa sawit tidak berhenti pada crude palm oil (CPO), tetapi dikembangkan menjadi produk turunan mutakhir, misalnya bahan bakar nabati dengan persentase penggunaan yang terus ditingkatkan.
    b. Industri perkayuan menerapkan teknologi dalam penanaman sehingga dapat dipanen lebih cepat dengan hasil yang lebih optimal.
    c. Penerapan teknologi kelautan untuk menghasilkan produk-produk laut berkualitas, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dengan wilayah laut yang luas.
    d. Penerapan teknologi pertanian untuk setidaknya memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri, sekaligus menjaga ketahanan pangan nasional.

Proteksionisme industri bukanlah pilihan tepat karena justru melemahkan daya saing dalam negeri. Lebih baik membuka pasar sambil terus belajar dan memperkuat industri nasional. Selain itu, nilai tukar rupiah dapat dimanfaatkan sebagai keuntungan bagi Indonesia untuk membangun industri berbasis ekspor.

Apabila reformasi industrialisasi dapat dijalankan dengan baik, bukan mustahil pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemerataan kesejahteraan di Indonesia dapat terwujud. Untuk mencapainya, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta kegigihan seluruh rakyat Indonesia.

Penulis : Swartoko (Pemerhati Ekonomi Nasional) dan Ady Normansyah

*)Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan redaksi Pajak.com. Pajak.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian, tuntutan, atau konsekuensi lain yang timbul akibat penggunaan informasi dalam artikel ini.

Leave a Reply

Exit mobile version