Menu
in ,

Tarif Trump Picu Ketidakpastian Ekonomi, Analis Sarankan Investor Pilih Instrumen Ini   

Tarif Ketidakpastian

FOTO: Mirae Asset

Tarif Trump Picu Ketidakpastian Ekonomi, Analis Sarankan Investor Pilih Instrumen Ini   

Pajak.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menetapkan tarif resiprokal 19 persen terhadap Indonesia. Para analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (Mirae Asset) memproyeksi, tarif tersebut memicu ketidakpastian dan volatilitas pasar modal. Untuk itu, Mirae Asset menyarankan investor untuk berinvestasi pada instrumen reksa dana pendapatan tetap (fixed income fund/bond fund) yang menawarkan fitur pendapatan pasif rutin bulanan.

Head of Wealth Management Mirae Asset M. Arief Maulana menjelaskan bahwa ketidakpastian makro ekonomi tinggi dan volatilitas pasar modal yang meningkat memerlukan kehati-hatian dalam berinvestasi. Untuk itu, instrumen yang relatif stabil dan berpendapatan rutin dapat menjadi alternatif pilihan bagi investor.

“Reksa dana pendapatan tetap pendapatan pasif rutin bulanan (monthly passive income bond fund) menjadi alternatif yang strategis, apalagi di tengah volatilitas dan ketidakpastian yang tinggi seperti sekarang,” ujar Arief dalam Media Day: July 2025 by Mirae Asset, dikutip Pajak.com(18/7/25).

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto mengungkapkan, saat ini terjadi tren capital outflow yang cukup besar di pasar saham Indonesia, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih positif.

Adapun IHSG tercatat masih menguat ke 7.091 dari posisi akhir tahun 7.079, ketika aliran dana asing bergerak keluar (foreign outflow) Rp57,9 triliun sejak awal tahun hingga 11 Juli 2025. Sepanjang Juli 2025, foreign outflow sudah terjadi sebesar Rp4,3 triliun.

“Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan saham di dalam negeri yang menguat itu didukung oleh investor domestik,” jelas Rully.

Di sisi lain, tren harga obligasi masih menunjukkan kenaikan (dan penurunan imbal hasil/yield), sejalan dengan aliran dana asing masuk (foreign inflow) yang cukup besar. Sepanjang Juli 2025, tercatat nett buy asing Rp17,2 triliun MTD atau Rp70 triliun YTD, dipengaruhi pemangkasan Bank Indonesia (BI) rate pada semester I-2025 dan ekspektasi penurunan The Fed Fund Rate (FFR) pada semester II-2025.

Rully memprediksi, suku bunga BI Rate masih akan ditahan pada 5,5 persen hingga akhir tahun dan menunggu adjustment dari perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit. Likuiditas perbankan juga diprediksi akan lebih longgar di semester II-2025 yang dapat mendorong kenaikan harga obligasi dan penurunan yield. Pergerakan harga dan yield obligasi bertolak belakang di pasar.

“Di tengah tekanan Trump agar The Fed menurunkan FFR secara agresif, kami memprediksi Bank Sentral AS masih akan berusaha berhati-hati dan melihat perkembangan data ekonomi untuk menentukan seberapa besar dan seberapa cepat penurunan suku bunga ke depan,” jelas Rully.

Sebagai alternatifnya, Mirae Asset dengan PT Sucorinvest Asset Management dalam mendistribusikan produk Sucorinvest Monthly Income Fund (SMIF) melalui platform reksa dana NAVI by Mirae Asset.

Secara umum, NAVI by Mirae Asset adalah platform Mirae Asset dalam perannya mendistribusikan dan memasarkan reksa dana dalam fungsinya sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD). SMIF yang tersedia di NAVI dapat membuka akses lebih luas bagi investor ritel terhadap produk berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar, yaitu dengan pendapatan bulanan, risiko relatif lebih rendah, dan dikelola oleh manajer investasi tepercaya.

NAVI memfasilitasi pembelian ratusan reksa dana dari berbagai manajer investasi ternama di Indonesia, termasuk SMIF dari Sucorinvest Asset Management yang kini tersedia melalui platform tersebut.

Leave a Reply

Exit mobile version