Pasar Cermati Kebijakan Menkeu Purbaya, IHSG Diprediksi Melemah Jangka Pendek
Pajak.com, Jakarta – Analis pasar modal yang merupakan Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto menganalisis bahwa pasar masih mencermati arah kebijakan fiskal Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. Mirae Asset pun memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah dalam jangka pendek.
“Sejak 2016, Sri Mulyani dikenal menekankan disiplin fiskal dan transparansi anggaran. Dengan pergantian ini, mandat presiden kepada menteri keuangan baru adalah mempercepat pencapaian pertumbuhan ekonomi 8 persen. Publik dan pasar masih melihat bagaimana kebijakan fiskal yang lebih ekspansif dengan peran pemerintah serta swasta yang lebih besar dalam mendorong pertumbuhan itu,” ujar Rully dalam webinar Media Day: September 2025 by Mirae Asset bertema New Economic Policy: Impact on Growth and Capital Market, dikutip Pajak.com (24/9/25).
Ia mencatat, kebijakan fiskal yang menjadi sorotan pasar saham di bawah kepemimpinan Purbaya, diantaranya pertama, pergeseran dari disiplin fiskal menuju kebijakan pro-growth dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen. Kedua, kebijakan fiskal yang lebih ekspansif melalui peningkatan belanja pemerintah dan dukungan terhadap program prioritas berupa penyaluran dana kredit ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sebesar Rp200 triliun. Ketiga, optimalisasi peran sektor swasta dan pemerintah dalam mendorong investasi dan konsumsi.
“Meskipun latar belakang Purbaya sebagai ekonom dan mantan pejabat BUMN [Badan Usaha Milik Negara] memberikan keyakinan akan kapasitasnya, pelaku pasar tetap menunggu kejelasan mengenai komitmen disiplin fiskal, transparansi anggaran, dan sumber pembiayaan program prioritas pemerintah,” ungkap Rully.
Ia menganalisis, implikasi kebijakan baru tersebut bagi pasar modal adalah kelanjutan volatilitas jangka pendek. Meski demikian, peluang investasi tetap terbuka dalam periode konsolidasi.
“Pasar masih menantikan kepastian apakah kebijakan ekspansif ini akan tetap menjaga keberlanjutan fiskal. Ketidakpastian tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan pergerakan indeks saham dan meningkatkan volatilitas pasar obligasi. Mirae Asset memprediksi bahwa pelemahan pasar saham masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek,” jelas Rully.
Menilik data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah menjadi 7.854,060 setelah Purbaya dilantik. Namun, IHSG menguat kembali 2,51 persen menjadi ke level 8.051,118 pada periode perdagangan 15—19 September 2025. Kemudian, kembali melemah 0,14 persen ke level 8.040,04 pada penutupan perdagangan 22 September 2025.
Namun, menurut Rully, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi investor untuk membeli saham-saham pilihan (buy on weakness). Rully mencermati kinerja sektor perbankan yang semakin cemerlang, terutama untuk bank BUMN dengan adanya penyaluran dana Rp200 triliun—asalkan tidak diikuti dengan kenaikan kredit tidak lancar atau non-performing loan (NPL) yang signifikan.
Selain itu, Rully memproyeksi potensi saham yang menghijau pada periode jangka pendek ini, seperti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, PT Sarana Menara Nusantara Tbk, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, PT Kalbe Farma Tbk, dan PT Barito Pacific Tbk.

