Menu
in ,

Investasi Emas di Tahun Kuda Api? Ini 3 Skenario Pergerakan Harga yang Perlu Dicermati

Investasi Emas di Tahun Kuda Api? Ini 3 Skenario Pergerakan Harga yang Perlu Dicermati

Pajak.com, Jakarta  Emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang paling banyak dilirik masyarakat Indonesia, terutama saat ketidakpastian global meningkat. Memasuki 2026, prospek harga emas kembali menjadi topik strategis, seiring dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), arah nilai tukar dolar AS, hingga eskalasi geopolitik yang belum sepenuhnya mereda. Lantas, bagaimana prospek lengkapnya? Pajak.com akan mengulasnya sebagai rujukan investasi emas Anda di tahun Kuda Api ini.

3 Skenario Pergerakan Harga Emas di 2026

Pegadaian, melalui kajian independen berbasis data global, memetakan sejumlah kemungkinan arah pergerakan harga emas yang dapat menjadi referensi bagi investor. Kajian tersebut disusun untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai faktor-faktor global yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga emas sepanjang 2026.

Pemimpin Wilayah Pegadaian Kanwil V Sulawesi Utara Pratikno menjelaskan, prospek harga emas 2026 disusun berdasarkan kajian independen dengan merujuk pada berbagai sumber kredibel. Analisis tersebut mengacu pada laporan World Gold Council, publikasi Federal Reserve, data Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, serta pandangan sejumlah analis internasional. Fokus kajian diarahkan pada interaksi antara kebijakan suku bunga, stabilitas ekonomi global, dan sentimen risiko dalam membentuk permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Sejak awal, Pratikno menekankan bahwa kajian ini tidak dimaksudkan sebagai prediksi tunggal. Ia menyebut, proyeksi harga emas ini disusun dalam bentuk skenario untuk memberikan gambaran mengenai rentang risiko dan peluang yang mungkin dihadapi investor sepanjang 2026.

“Analisis ini bersifat independen dan bukan merupakan pernyataan resmi institusi. Proyeksi harga bukan kepastian, melainkan gambaran kemungkinan yang dapat berubah seiring dinamika global,” kata Pratikno dalam acara Ngobrol Santai Bersama Awak Media, di Gorontalo, Sulut, dikutip Pajak.com, Minggu (4/1/2026).

Bagi investor ritel, khususnya masyarakat Indonesia, pemetaan skenario ini menegaskan investasi emas pada 2026 tidak bisa dilepaskan dari pemahaman terhadap faktor global. Meski emas tetap menawarkan fungsi lindung nilai dan diversifikasi portofolio, pergerakan harganya akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan The Fed, kekuatan dolar AS, serta dinamika geopolitik dunia. Dengan demikian, pendekatan bertahap dan berorientasi jangka menengah hingga panjang menjadi kunci agar investasi emas tetap relevan di tengah ketidakpastian global yang terus berubah.

Berikut uraian lengkap 3 skenario harga emas tersebut:

1. A Shallow Slip

Dalam skenario pertama yang disebut A Shallow Slip, harga emas diperkirakan masih berpotensi naik secara moderat di kisaran 5–15 persen. Skenario ini berangkat dari asumsi kondisi ekonomi global yang relatif stabil, dengan inflasi yang mulai terkendali.

Pratikno mengemukakan, bank sentral utama dunia, termasuk The Fed, diperkirakan mengambil sikap hati-hati dalam kebijakan suku bunga, tanpa pelonggaran agresif.

“Dalam situasi ini, The Fed dan bank sentral utama dunia diperkirakan mengambil sikap kebijakan moneter yang berhati-hati, tanpa pelonggaran suku bunga secara agresif,” ungkapnya.

Dalam skenario ini, dolar AS bakal bergerak stabil, sejalan dengan ketegangan geopolitik masih berada pada level yang dapat dikelola. Dalam kondisi tersebut, Pratikno meyakini kalau emas tetap diminati sebagai pelindung nilai, tetapi tidak disertai lonjakan permintaan besar, sehingga kenaikan harga berlangsung bertahap.

2. The Doom Loop

Skenario kedua, The Doom Loop, menggambarkan situasi yang lebih ekstrem. Pratikno bilang, kenaikan harga emas berpotensi mencapai 15–30 persen apabila tekanan global meningkat tajam. Pemicu utamanya dapat berupa eskalasi konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, krisis utang, atau ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Saat risiko pasar melonjak dan kepercayaan terhadap aset berisiko melemah, investor global cenderung mengalihkan portofolio ke emas sebagai safe haven utama. Artinya, pelemahan dolar AS dan ekspektasi penurunan suku bunga akan memperkuat daya tarik emas dalam skenario ini.

“Pelemahan dolar AS serta ekspektasi penurunan suku bunga akan semakin memperkuat daya tarik emas, membuka ruang bagi kenaikan harga yang lebih agresif di rentang 15–30 persen,” jelasnya.

3. Reflation Return

Sebaliknya, Pegadaian juga mengantisipasi kemungkinan Reflation Return, yakni kondisi ketika ekonomi global pulih lebih kuat dari perkiraan. Pertumbuhan ekonomi yang solid, meredanya ketegangan geopolitik, serta kebijakan fiskal dan moneter yang lebih propertumbuhan dapat mendorong investor kembali ke saham dan obligasi.

“Kebijakan fiskal dan moneter yang lebih propertumbuhan mendorong investor kembali ke aset berisiko seperti saham dan obligasi,” imbuhnya.

Dalam situasi tersebut, Pratikno meyakini minat terhadap emas berpotensi menurun. Harga emas dapat mengalami koreksi di kisaran 5–20 persen, terutama jika suku bunga riil tetap tinggi dan dolar AS kembali menguat.

Selain ketiga skenario utama itu, terdapat pula peluang harga emas bergerak relatif stabil sepanjang 2026. Kondisi ini dapat terjadi apabila tidak muncul guncangan signifikan di sektor moneter maupun geopolitik global, sehingga permintaan dan penawaran emas cenderung seimbang.

Leave a Reply

Exit mobile version