UMKM Binaan Pertamina Raup Omzet Rp4,7 Miliar di Inacraft 2025
Pajak.com, Jakarta – Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan PT Pertamina (Persero) meraup omzet hingga Rp4,7 miliar pada ajang Inacraft on October 2025 yang digelar pada 1–5 Oktober 2025, di Jakarta Convention Center (JCC). Capaian itu meningkat hampir 62 persen dibanding tahun sebelumnya.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso menuturkan bahwa capaian ini menegaskan komitmen Pertamina dalam mendorong pelaku UMKM untuk terus kreatif, naik kelas, dan berdaya saing di pasar nasional maupun global.
“Peningkatan omzet ini menunjukkan kualitas produk dan daya saing UMKM binaan Pertamina terus meningkat. Kami tidak hanya membantu promosi, tetapi juga memperkuat kapasitas usaha agar mereka siap bersaing di pasar nasional bahkan global,” ujar Fadjar dalam keterangan tertulis, dikutip Pajak.com (8/10/25).
Selaras dengan Asta Cita Pemerintahan Prabowo–Gibran poin ke-3, Pertamina terus konsisten menciptakan lapangan kerja berkualitas, memperkuat industri kreatif, dan menumbuhkan kewirausahaan melalui berbagai pelatihan serta akses permodalan bagi UMKM. Upaya ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.
Kehadiran UMKM binaan Pertamina di Inacraft 2025 sekaligus menjadi bukti nyata komitmen perusahaan dalam menjalankan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) pada pilar Pertamina untuk Indonesia Maju. Melalui berbagai inisiatif, seperti Rumah BUMN, Pertamina SMEXPO, dan Pertamina UMK Academy, perseroan terus mendorong UMKM untuk naik kelas dan menembus pasar global.
“Kami percaya, keberhasilan UMKM bukan hanya diukur dari transaksi, tetapi juga dari seberapa besar dampak sosial dan budaya yang dihasilkan,” tandas Fadjar.
Salah satu UMKM binaan yang mencuri perhatian dalam pameran tersebut adalah Batik Mata Andau asal Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Usaha rumahan yang dirintis oleh Yoga Rustaman bersama sang istri sejak 2017 ini hadir membawa misi membudayakan batik khas Dayak agar lebih dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Dengan melibatkan 20 pengrajin batik yang mayoritas perempuan berusia di atas 50 tahun, Batik Mata Andau menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan seiring. Dalam pameran ini, mereka berhasil menjual lebih dari 800 potong outer bermotif khas Dayak hanya dalam hitungan hari. Keindahan karya mereka bahkan mendapat apresiasi dari sejumlah tokoh nasional yang hadir di lokasi.
Tak hanya sukses di pasar domestik, produk Batik Mata Andau juga menarik minat pembeli dari Korea, Jepang, hingga Turki, serta dipercaya salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) transportasi untuk memproduksi seragam korporasi bernuansa budaya Nusantara.
Founder Batik Mata Andau Yoga Rustaman mengungkapkan bahwa keikutsertaan kami di Inacraft 2025 bersama Pertamina nyata membuka banyak peluang baru.
“Selain omzet meningkat signifikan, kami juga mendapat apresiasi dan calon pembeli dari luar negeri. Dukungan Pertamina bukan hanya soal pameran, tetapi juga pendampingan usaha yang manfaatnya sangat terasa,” ujar Yoga.
Kesuksesan Batik Mata Andau juga diikuti oleh Smart Batik Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui inovasi Batik Sawit. Founder Smart Batik Miftahudin Nur Ihsan menuturkan, kain batiknya ini ramah lingkungan serta memadukan kearifan lokal dengan teknologi hijau. Ia juga menyebut, Smart Batik memberdayakan 65 ibu-ibu pembatik di DIY.
“Pameran pertama kami bersama Pertamina ini luar biasa! Banyak relasi dan peluang kolaborasi baru, bahkan dengan Duta Besar Indonesia untuk Meksiko, Bapak Toferry Primanda Soetikno,” ujar Miftah.
Tak hanya menampilkan produk, booth UMKM binaan Pertamina juga menghadirkan berbagai aktivasi menarik dan edukatif, mulai dari kegiatan membatik, hadiah, podcast inspiratif bersama pelaku UMKM, hingga health talk bertajuk ‘Sendok Obat’ (Senggol Dokter Obrolan Sehat) yang digelar bertepatan dengan Hari Batik Nasional.
Adapun jumlah UMKM binaan Pertamina sebanyak 32 yang terbagi dalam beberapa kategori, yakni 18 UMKM sektor wastra, kriya, fesyen, dan aksesori yang tampil di Lobby Hall A; enam UMKM kuliner unggulan di Talam Hall B; serta tujuh UMKM co-branding yang berpartisipasi secara mandiri.

