Transaksi REPO Surat Utang SMF Tembus Rp299 Miliar dalam 10 Hari
Pajak.com, Jakarta – Transaksi Repurchase Agreement (REPO) berbasis Surat Utang PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF mencatat tonggak penting. Dalam sepuluh hari sejak resmi dinyatakan eligible sebagai underlying REPO Bank Indonesia (BI), nilai transaksi telah menembus Rp299 miliar.
Direktur Utama SMF Ananta Wiyogo menjelaskan bahwa surat utang SMF merupakan surat utang korporasi pertama yang ditetapkan BI sebagai underlying REPO. Keputusan ini menjadi sejarah baru bagi SMF sekaligus menandai sinergi strategis antara kebijakan fiskal dan moneter untuk memperkuat pembiayaan sektor perumahan dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ananta menjelaskan bahwa SMF sebagai Special Mission Vehicle Kementerian Keuangan telah lama memegang peran sentral dalam pembiayaan perumahan, khususnya melalui kontribusinya dalam pendanaan 25 persen porsi program KPR Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
Melalui dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp11,22 triliun, SMF mampu mengungkit pendanaan hingga Rp29,93 triliun untuk program tersebut per 30 September 2025. Selain itu, SMF turut berpartisipasi dalam pembiayaan program mikro perumahan griya tunas guna mendukung target pembangunan 3 juta rumah.
Penetapan Surat Utang SMF sebagai underlying REPO BI dilakukan berdasarkan sejumlah kriteria ketat, antara lain besarnya outstanding, kepemilikan oleh perbankan, peringkat kredit idAAA, status entitas, likuiditas di pasar, serta pengakuan sebagai High Quality Liquid Assets (HQLA) dalam perhitungan rasio likuiditas bank.
“Penetapan surat utang SMF sebagai underlying REPO BI adalah bukti nyata sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Kebijakan fiskal menyediakan kerangka pembiayaan yang berkelanjutan, sementara Bank Indonesia dari sisi moneter memperkuat ekosistem likuiditas melalui perluasan instrumen operasi moneter,” ujar Ananta dalam perkenalan REPO Surat Utang SMF kepada perbankan, dikutip Pajak.com pada Jumat (21/11/25).
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa pemanfaatan instrumen REPO berbasis Surat Utang SMF mulai menunjukkan perkembangan positif di industri perbankan.
“Ada sembilan bank sudah melakukan transaksi repo SMF dengan Bank Indonesia. Dan Alhamdulillah, sudah masuk Rp299 miliar,” kata Destry.
Ia menegaskan bahwa pasar REPO memiliki peran fundamental dalam pengelolaan likuiditas dan transmisi kebijakan moneter. Meskipun potensi REPO di Indonesia masih sangat besar, tingkat pemanfaatannya masih perlu ditingkatkan.
“Pasar repo di banyak negara sudah menjadi pengelolaan likuiditas utama yang menopang pasar surat berharga dan transmisi kebijakan moneter. Di Indonesia, potensi repo masih sangat besar, namun penggunaannya masih belum optimal. Namun dengan sinergi antar otoritas dan pelaku pasar, transaksi Repo yang sebelumnya dianggap ‘tabu’ juga terus naik dari Rp509 miliar pada tahun 2020 menjadi Rp17,5 triliun pada tahun 2025. Namun hal ini masih perlu ditingkatkan lagi,” ungkapnya.
Destry menambahkan bahwa perluasan underlying REPO menggunakan surat berharga korporasi seperti obligasi dan sukuk SMF merupakan hasil kerja sama erat BI, Kemenkeu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), KSEI, APUVINDO, dan SMF. Kebijakan ini diharapkan dimanfaatkan secara optimal oleh Dealer Utama PUVA untuk meningkatkan aktivitas transaksi REPO di pasar sekunder.
Hingga September 2025, SMF telah menerbitkan surat utang sebanyak 73 kali dengan total nilai Rp74,87 triliun, termasuk penerbitan dalam rangka leverage PMN untuk program FLPP. Data KSEI periode Oktober 2025 menunjukkan bahwa SMF menjadi penerbit surat utang terbesar nomor tiga di Indonesia dan perusahaan berperingkat AAA terbesar nomor dua dengan outstanding mencapai Rp25,38 triliun.
Di sisi lain, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menegaskan pentingnya sektor perumahan dalam menciptakan multiplier effect bagi perekonomian nasional. Ia menekankan bahwa APBN menempatkan sektor ini sebagai prioritas strategis.
“Kita berharap bahwa sektor perumahan ini bisa kita kembangkan lebih pesat lagi, lebih besar. Keberadaan PT SMF menghubungkan dengan sektor keuangan yang lain, saat ini surat berharga PT SMF dapat direpokan, dan moga-moga ini menciptakan likuiditas yang lebih besar lagi dalam perekonomian kita,” ungkapnya.

