Menu
in ,

Sri Mulyani Beberkan Kondisi Ekonomi Global Imbas Tarif Resiprokal AS dan Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Sri Mulyani Ekonomi Global

FOTO: IST

Sri Mulyani Beberkan Kondisi Ekonomi Global Imbas Tarif Resiprokal AS dan Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Pajak.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa ketidakpastian ekonomi global sepanjang kuartal II-2025 masih tinggi, dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ia menegaskan bahwa dinamika tarif dan konflik geopolitik berdampak signifikan terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara besar seperti AS, Eropa, dan Jepang.

“Ketidakpastian perekonomian global pada kuartal II-2025 tetap tinggi akibat kebijakan tarif resiprokal AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” ujar Sri dalam konferensi pers hasil rapat KSSK, dikutip Pajak.com pada Selasa (29/7/25).

Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani menjelaskan ketegangan memuncak sejak April 2025, ketika AS mengumumkan kebijakan tarif resiprokal yang langsung dibalas oleh Tiongkok dengan langkah retaliasi. Di bulan Juni, ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memperburuk kondisi global.

Akibatnya, ekonomi global jadi melambat. Di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2025 tercatat hanya 5,2 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang mencapai 5,4 persen yoy. Penurunan tersebut disebabkan turunnya ekspor ke AS sebagai dampak langsung dari kebijakan tarif.

Sementara itu, India menunjukkan tren pertumbuhan yang lebih kuat berkat tingginya investasi. Namun, sejumlah negara berkembang lainnya turut merasakan imbas negatif berupa perlambatan ekspor ke AS dan pelemahan perdagangan global secara umum.

“Negara berkembang lainnya juga mengalami perlambatan akibat penurunan ekspor ke AS dan pelemahan perdagangan global,” jelas Sri Mulyani.

Pergeseran arus modal global pun terus berlangsung. Aliran dana dari AS mulai bergerak ke aset-aset yang dianggap lebih aman seperti emas, aset keuangan di Jepang, Eropa, serta emerging markets. Tren ini mendorong pelemahan nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang utama dunia.

Kondisi ini turut memengaruhi revisi proyeksi lembaga internasional terhadap pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Bank Dunia dalam laporan Juni 2025 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,9 persen (menggunakan bobot Purchasing Power Parity/PPP), turun dari proyeksi sebelumnya 3,2 persen.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga menurunkan proyeksi pertumbuhan global dari 3,1 persen menjadi 2,9 persen dalam laporan yang sama.

Leave a Reply

Exit mobile version