Pertumbuhan Ekonomi Dipatok 5,4 Persen pada 2026, Sri Mulyani: Langkah Awal Menuju 8 Persen
Pajak.com, Jakarta – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,4 persen pada tahun 2026. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa target tersebut dinilai sebagai langkah awal yang penting dan strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, sekaligus pijakan menuju skenario jangka menengah yang ditetapkan sebesar 8 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,4 persen di tahun 2026 menjadi langkah awal yang sangat penting dan strategis di dalam rangka kita untuk terus memacu optimisme skenario untuk mencapai 8 persen,” ungkap Sri Mulyani dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR di Jakarta, dikutip Pajak.com pada Senin (25/8/25).
Sri Mulyani menekankan bahwa pencapaian target tersebut ditempuh dengan penuh kehati-hatian. Menurutnya, setiap target pertumbuhan ekonomi yang tinggi selalu disertai dengan baseline dan downside risk yang harus diperhatikan secara cermat.
“Namun kita juga tahu selalu bahwa di dalam growth target yang tinggi selalu ada apa yang disebut baseline dan downside risk yang harus kita perhatikan, sehingga kita mampu untuk menjaga momentum pertumbuhan tanpa kehilangan kredibilitasnya dan tetap ditopang dengan langkah-langkah yang memang konsisten untuk mencapainya,” jelas Sri Mulyani.
Ia menambahkan, untuk mewujudkan target tersebut dibutuhkan kerja sama luar biasa dari seluruh pemangku kebijakan. Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus berkoordinasi untuk memastikan kondisi ekonomi tetap stabil sekaligus mampu menstimulasi pertumbuhan.
“Untuk mencapai 5,4 persen memang dibutuhkan kerja bersama dan kerja sama yang luar biasa. Di tataran macro policy kami dengan Bank Indonesia dan KSSK OJK terus untuk membuat situasi tidak hanya stabil tapi juga cenderung men-stimulate growth. Kami bahkan sudah menggunakan instrumen fiskal secara sangat diverse,” ujar Menkeu.
Lebih lanjut, strategi yang ditempuh pemerintah meliputi diversifikasi instrumen fiskal baik dari sisi belanja negara, pembiayaan, maupun penerimaan pajak. Seluruh instrumen ini diarahkan tidak hanya untuk menambah penerimaan negara, tetapi juga untuk memperkuat daya dorong pertumbuhan ekonomi.
“Jadi memang dalam hal ini tugas kami adalah berat di dua sisi yang sangat ekstrem. Di satu sisi menaikkan penerimaan pajak, di sisi lain mendukung iklim investasi untuk terciptanya growth yang lebih tinggi. Ini akan kami jaga secara hati-hati, balance di antara dua tujuan yang sama sekali berbeda,” pungkas Sri Mulyani.

