Menu
in ,

Menko Airlangga Klaim Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Solid

FOTO : IST

Menko Airlangga Klaim Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Solid

Pajak.com, Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid di tengah ketidakpastian global. Klaim tersebut didasarkan pada tiga indikator makro yang menunjukkan tren positif, yakni inflasi Agustus 2025 yang terkendali, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang kembali ekspansi, serta surplus neraca perdagangan yang telah berlanjut selama 63 bulan berturut-turut.

Realisasi inflasi Indonesia tercatat tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami deflasi 0,08 persen (month to month/mtm) atau inflasi 2,31 persen (year on year/yoy), serta 1,60 persen (year-to-date/ytd) pada Agustus 2025.

Inflasi inti justru meningkat 0,06 persen mtm dan 2,17 persen yoy, menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga. Adapun inflasi volatile food turun 0,61 persen mtm dan tercatat 4,47 persen yoy, sesuai kesepakatan High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Pusat (HLM TPIP) untuk menjaga inflasi bahan pangan bergejolak di kisaran 3–5 persen yoy.

Deflasi Agustus terutama dipengaruhi turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti tomat dan cabai rawit akibat panen raya. Inflasi administered price pun turun 0,08 persen mtm atau 1,00 persen yoy, didorong oleh penyesuaian harga BBM nonsubsidi awal Agustus serta diskon tiket pesawat yang diberikan maskapai dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai efektif menjaga daya beli sekaligus mendorong mobilitas masyarakat.

Pemerintah melalui TPIP juga terus menjaga ketersediaan pasokan, khususnya beras. Penyaluran beras SPHP ditargetkan mencapai 1,3 juta ton hingga akhir 2025.

“Untuk mendorong peningkatan produktivitas pertanian, akses pembiayaan melalui KUR sektor pertanian dan Kredit Usaha Alsintan akan terus dioptimalkan, per Agustus jumlah yang telah disalurkan Rp60,93 triliun dari total alokasi sebesar Rp287,47 triliun. Pemerintah juga terus berkomitmen untuk menjaga daya beli masyarakat melalui pemberian stimulus ekonomi berupa diskon transportasi yang akan kembali dilanjutkan untuk periode Nataru,” ujar Airlangga dalam konferensi pers, dikutip Pajak.com pada Rabu (3/9/25).

Selain inflasi, tren positif juga ditunjukkan oleh neraca perdagangan. Pada Juli 2025, Indonesia kembali mencatat surplus sebesar 4,17 miliar dolar Amerika Serikat (AS) naik 1,71 persen mtm, dari bulan sebelumnya. Kinerja ini ditopang ekspor yang tumbuh 5,6 persen mtm menjadi 24,75 miliar dolar AS, lebih tinggi dari impor sebesar 20,57 miliar dolar AS.

Hubungan dagang dengan AS turut memperkuat surplus. Pada Juli 2025, neraca perdagangan nonmigas dengan AS surplus 2,2 miliar dolar AS, meski ekspor masih dikenai tarif baseline 10 persen.

Peningkatan ini didukung lonjakan permintaan dari mitra dagang utama, seiring kenaikan PMI manufaktur India ke level 59,1, ASEAN ke 50,1, dan Uni Eropa ke 49,6. Tiongkok, AS, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia.

Kinerja ekspor semakin kuat berkat kenaikan harga komoditas unggulan seperti batu bara, gas alam, kelapa sawit, karet, bijih besi, dan timah, serta produk manufaktur bernilai tambah seperti kendaraan, mesin, dan alas kaki. Sementara itu, impor naik 6,43 persen mtm mencapai 20,57 miliar dolar AS, didominasi bahan baku penolong dan barang modal. Hal ini menandakan aktivitas produksi dalam negeri terus bergulir untuk memenuhi pasar domestik maupun ekspor.

Surplus neraca perdagangan diperkirakan masih berlanjut, seiring dengan membaiknya PMI Manufaktur. Pada Agustus 2025, PMI Indonesia melonjak dari 49,2 ke 51,5, kembali ke zona ekspansi setelah empat bulan kontraksi.

Peningkatan permintaan domestik dan ekspor mendorong output serta pesanan baru, dengan kenaikan tertinggi sejak September 2023. Lapangan kerja dan aktivitas pembelian juga meningkat.

“Kembalinya PMI manufaktur ke zona ekspansi menunjukkan terus membaiknya kondisi ekonomi domestik dan optimisme pelaku usaha yang semakin menguat seiring dengan membaiknya kondisi daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan produksi pada periode mendatang,” ujar Airlangga.

Untuk menjaga momentum ini, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, antara lain implementasi Kredit Industri Padat Karya serta peningkatan konsumsi produk lokal melalui program Harbolnas.

Leave a Reply

Exit mobile version